55tv.co.id – Indonesia tengah bersiap menghadapi babak baru dalam pengelolaan sumber daya lautnya. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, potensi energi maritim menjadi kunci utama dalam mempercepat transisi energi nasional. Salah satu langkah konkret yang kini tengah digodok adalah upaya mengubah wajah armada perikanan tradisional melalui teknologi energi terbarukan.

Related Post
Dalam ajang bergengsi Energy Week 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), wacana besar mengenai masa depan energi maritim ini mencuat ke permukaan. PT Zero Degree Deep Blue Technology, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi kelautan, hadir sebagai mitra strategis untuk mendorong inovasi tersebut. Kehadiran mereka bukan sekadar partisipasi biasa, melainkan sebuah langkah nyata untuk menjembatani kebutuhan industri dengan riset mutakhir.

Delegasi perusahaan teknologi ini dipimpin langsung oleh Chairman Dr. Ishak Ding, didampingi oleh jajaran petinggi lainnya seperti Vice Chairman Muslim Abdullah, Advisor Vijaya Fitriyasa, serta Chief Technology Officer (CTO) Cheng Yichun. Kehadiran para ahli ini menegaskan bahwa sektor maritim Indonesia memiliki daya tarik investasi dan kolaborasi teknologi yang sangat tinggi.
Dr. Ishak Ding mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki peluang emas dalam proses transisi energi. Menurutnya, kunci utama untuk mewujudkan kemandirian energi di sektor laut adalah melalui sinergi yang kuat antara dunia industri, lembaga penelitian, dan pemerintah. Ia menekankan bahwa teknologi yang dibawa harus mampu menjawab tantangan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
"Kami merasa sangat terhormat dapat hadir dalam forum yang luar biasa ini. Kami melihat ada peluang besar dalam proses transisi energi di Indonesia. Kami optimis dapat berkontribusi dalam menghadirkan solusi energi terbarukan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga ekonomis dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas," ujar Ishak.
Fokus utama dari transformasi ini adalah sektor transportasi laut, khususnya kapal-kapal nelayan. Muslim Abdullah, selaku Vice Chairman, menyoroti bahwa karakteristik geografis Indonesia menuntut adanya solusi energi yang spesifik untuk kebutuhan maritim. Salah satu program prioritas yang diusulkan adalah konversi mesin kapal nelayan dari bahan bakar fosil menuju teknologi energi bersih.
Langkah konversi ini diharapkan dapat menekan biaya operasional para nelayan dalam jangka panjang sekaligus mengurangi emisi karbon di wilayah perairan Indonesia. Dengan beralih ke energi terbarukan, sektor perikanan tidak hanya menjadi lebih modern, tetapi juga lebih berkelanjutan secara ekologis.
"Kami berharap dapat membangun kerja sama strategis bersama BRIN untuk mendukung proyek konversi kapal nelayan menuju teknologi energi terbarukan. Target kami adalah menciptakan solusi yang ekonomis agar dapat diterima dan diterapkan secara luas oleh masyarakat nelayan," pungkas Muslim.
Melalui kolaborasi antara inovasi teknologi global dan riset lokal, masa depan energi maritim Indonesia diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekonomi biru yang tangguh dan ramah lingkungan.








Tinggalkan komentar