55tv.co.id – Limbah dapur yang selama ini dianggap tidak bernilai kini tengah disulap menjadi sesuatu yang sangat berharga. Pertamina, melalui anak perusahaannya Pertamina Patra Niaga, tengah bergerak masif dalam membangun ekosistem pengumpulan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO). Langkah strategis ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan sebagai upaya nyata dalam mempercepat transisi energi menuju sumber daya yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Related Post
Minyak jelantah yang biasanya dibuang sembarangan dan berisiko mencemari lingkungan, kini dipandang sebagai bahan baku emas untuk masa depan energi hijau. Pertamina melihat potensi besar dalam limbah cair ini untuk diolah menjadi produk energi bernilai tinggi, di antaranya adalah Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar pesawat berkelanjutan, serta Green Gasoline atau bensin hijau.

Dalam menjalankan misi ini, Pertamina Patra Niaga tidak bekerja sendirian. Perusahaan tengah mendorong partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat, mulai dari skala rumah tangga hingga pelaku usaha kuliner. Melalui pengembangan ekosistem pengumpulan yang terstruktur, Pertamina mengajak masyarakat untuk tidak lagi membuang minyak bekas pakai ke saluran air, melainkan mengumpulkannya untuk disalurkan kembali ke rantai pasok industri.
Untuk memastikan rantai pasok bahan baku alternatif ini berjalan lancar dan berkelanjutan, Pertamina memanfaatkan berbagai kanal pengumpulan. Salah satu strategi yang diterapkan adalah bekerja sama dengan berbagai mitra, termasuk melalui koperasi. Dengan melibatkan koperasi, proses pengumpulan minyak jelantah diharapkan menjadi lebih terorganisir, menjangkau lebih banyak titik, dan memberikan nilai ekonomi tambahan bagi komunitas lokal.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bentuk nyata kontribusi perusahaan dalam mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada di tengah masyarakat. Menurutnya, program pengumpulan UCO ini merupakan langkah konkret dalam mendukung agenda transisi energi nasional yang lebih bersih.
Lebih jauh lagi, proyek ini bukan sekadar upaya pengelolaan limbah agar lebih produktif. Ini adalah langkah awal dalam membangun ekosistem energi berkelanjutan yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. Dengan mengubah limbah menjadi bahan bakar pesawat (SAF), Pertamina turut membantu sektor penerbangan mengurangi jejak karbonnya, sekaligus menyediakan alternatif bahan bakar yang lebih ramah lingkungan bagi masa depan transportasi global.
Melalui gerakan ini, masyarakat tidak hanya berperan dalam menjaga kebersihan lingkungan dari pencemaran limbah minyak, tetapi juga menjadi bagian penting dari revolusi energi hijau di Indonesia. Transformasi dari limbah dapur menjadi bahan bakar pesawat adalah bukti bahwa inovasi dan kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan demi masa depan bumi yang lebih baik.










Tinggalkan komentar