Ubah Sampah Jadi Cuan Lewat Bisnis Biomassa

Ubah Sampah Jadi Cuan Lewat Bisnis Biomassa

55tv.co.id – Potensi ekonomi dari pengelolaan limbah kini semakin terbuka lebar bagi para pelaku usaha di berbagai daerah. Melalui pengembangan sektor bioenergi, sampah dan sisa hasil pertanian yang selama ini dianggap tidak berguna, kini dapat ditransformasikan menjadi bahan bakar bernilai tinggi. PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) secara aktif mengajak pengusaha lokal untuk masuk ke dalam ekosistem rantai pasok biomassa guna mendukung kebutuhan energi nasional.

COLLABMEDIANET

Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya memperkuat program co-firing di berbagai Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengungkapkan bahwa kebutuhan akan biomassa untuk mendukung operasional pembangkit listrik PLN sangatlah masif. Saat ini, terdapat sekitar 52 lokasi PLTU dengan total kapasitas terpasang mencapai 18.154 megawatt (MW) yang membutuhkan pasokan biomassa hingga 9 juta ton setiap tahunnya.

Ubah Sampah Jadi Cuan Lewat Bisnis Biomassa
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Bisnis ini dirancang untuk melibatkan sebanyak mungkin pengusaha lokal," ujar Hokkop dalam keterangannya saat menghadiri Rapat Kerja Daerah (Rakerda) DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jawa Barat di Bekasi.

Menurutnya, peluang bisnis dalam rantai pasok biomassa ini sangat luas dan tidak hanya terbatas pada satu lini saja. Para pelaku usaha dapat mengambil peran dalam berbagai model bisnis, mulai dari proses pengumpulan bahan baku di lapangan, tahap pengolahan, manajemen penyimpanan, hingga proses pengiriman ke lokasi pembangkit. PLN EPI telah menyiapkan skema di mana pengusaha dapat terlibat sebagai pengelola sub hub, hub, maupun main hub.

Menariknya, bahan baku yang dibutuhkan sangat beragam dan mudah ditemukan di sekitar lingkungan masyarakat. Mulai dari serbuk gergaji, sisa tebangan kayu, sekam padi, bonggol jagung, batang singkong, hingga berbagai jenis limbah lainnya dapat menjadi komoditas berharga. Skema ini pun bersifat inklusif, di mana tidak hanya perusahaan skala besar yang bisa bergabung. Koperasi, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), kelompok tani, hingga pelaku UMKM memiliki kesempatan yang sama untuk masuk ke dalam ekosistem ini.

Berdasarkan data PLN EPI, hingga periode 2023 hingga 2026, realisasi penyediaan biomassa telah mencapai angka 4,77 juta ton. Namun, tantangan sekaligus peluang besar muncul karena saat ini lebih dari 77 persen pasokan masih didominasi oleh biomassa berbasis kayu. Hal ini membuka ruang diversifikasi yang sangat luas, terutama dengan mengoptimalkan residu dari sektor pertanian, perkebunan, serta pengelolaan sampah kota yang selama ini belum tergarap maksimal.

Sebagai contoh nyata di Jawa Barat, PLN EPI tengah memetakan potensi pemanfaatan sampah dari Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Gedebage. Sampah tersebut direncanakan akan diolah menjadi Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP) yang dapat digunakan sebagai alternatif bahan bakar co-firing di sejumlah PLTU.

Dalam perencanaan logistiknya, PLN EPI juga mempertimbangkan efisiensi jarak agar nilai ekonomisnya tetap terjaga. Sebagai gambaran, dari TPS Gedebage, distribusi dapat diarahkan ke PLTU Indramayu dengan jarak sekitar 150 km, PLTU Pelabuhan Ratu 170 km, PLTU Adipala 185 km, hingga PLTU Lontar yang berjarak 240 km. Pengelolaan jarak yang tepat menjadi kunci utama agar biaya logistik tidak membengkak, sehingga bisnis pengelolaan sampah ini benar-benar memberikan keuntungan bagi pengusaha daerah.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar