55 NEWS – Publik dikejutkan dengan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang berlaku efektif sejak 10 Juni 2026, mencapai Rp16.250 per liter. Namun, di balik angka tersebut, PT Pertamina Patra Niaga melalui keterangan resminya mengungkapkan sebuah fakta menarik: harga baru ini ternyata baru mencakup separuh dari nilai keekonomian yang seharusnya.

Related Post
Roberth MV Dumatubun, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, menjelaskan bahwa kebijakan penyesuaian harga ini merupakan langkah bertahap. "Penyesuaian harga Pertamax yang dilakukan saat ini adalah 50% dari selisih harga pasar," terang Roberth dalam pernyataan yang diterima 55tv.co.id. Ini mengindikasikan bahwa harga jual Pertamax saat ini masih mendapatkan "subsidi" tidak langsung dari perusahaan, jauh di bawah potensi harga pasar penuh yang seharusnya.

Ia menambahkan, meski ada kenaikan, harga Pertamax di Indonesia tetap diklaim lebih kompetitif dibandingkan dengan harga BBM sejenis di negara-negara tetangga ASEAN. Strategi ini, menurut Roberth, bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus stabilitas perekonomian nasional di tengah fluktuasi harga minyak mentah global.
Kenaikan harga menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter ini, lanjut Roberth, telah mengacu pada mekanisme harga pasar sesuai formula yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini menunjukkan komitmen Pertamina untuk menyesuaikan harga produk nonsubsidi dengan dinamika pasar, sekaligus tetap mempertimbangkan dampak terhadap konsumen.
Roberth menegaskan bahwa penetapan dan penyesuaian harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax series sejalan dengan informasi pemerintah. Produk ini, kata dia, memang mengikuti perkembangan parameter pasar dan formula yang berlaku. Berbeda halnya dengan BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar, yang penetapan harganya menjadi kewenangan pemerintah dan tidak mengalami perubahan.
"BBM nonsubsidi seperti Pertamax series merupakan produk yang harga jualnya disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar dan faktor-faktor ekonomi yang memengaruhi biaya pengadaan energi," pungkas Roberth, memberikan gambaran transparan mengenai dinamika harga energi di tanah air dan upaya Pertamina dalam menyeimbangkan antara keekonomian dan daya beli masyarakat.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar