55 NEWS – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) tengah menyoroti potensi luar biasa dari pengembangan bioenergi di kancah nasional. Inisiatif ini tidak hanya dipandang sebagai pilar krusial dalam memperkuat ketahanan energi dan mempercepat upaya dekarbonisasi, tetapi juga sebagai mesin pencetak peluang ekonomi baru yang signifikan bagi masyarakat luas.

Related Post
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengungkapkan bahwa pemanfaatan biomassa secara masif dalam sektor ketenagalistrikan akan mengukir dampak positif yang multidimensional, meliputi aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. "Apabila implementasi biomassa dapat mencapai 10 juta ton per tahun di pembangkit-pembangkit kami, nilai ekonominya diproyeksikan meroket hingga Rp11 triliun," jelas Hokkop dalam keterangan resminya yang diterima 55tv.co.id pada Rabu (3/6/2026). Ia menambahkan, proyeksi ini juga berpotensi mengurangi emisi karbon sekitar 12 juta ton CO2 dan menciptakan hingga 150.000 lapangan kerja baru dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun mendatang.

Pengembangan ekosistem biomassa ini, selain berkontribusi pada penurunan emisi karbon, juga diperkirakan akan membuka hingga 150 ribu posisi pekerjaan baru dalam beberapa tahun ke depan. Ini menjadi angin segar bagi pasar tenaga kerja dan ekonomi daerah.
Menurut Hokkop, biomassa menawarkan solusi transisi energi yang dapat diimplementasikan dengan cepat melalui program co-firing pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Skema ini melibatkan substitusi sebagian penggunaan batu bara dengan biomassa yang bersumber dari limbah pertanian, perkebunan, kehutanan, serta limbah organik lainnya. "Bioenergi bukanlah pengganti total pembangkit fosil dalam waktu singkat, melainkan sebuah solusi transisi yang memungkinkan penurunan emisi secara bertahap tanpa mengorbankan keandalan pasokan listrik nasional," tegasnya.
Hingga saat ini, PLN telah berhasil mengimplementasikan program co-firing biomassa di 52 PLTU yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Sepanjang tahun 2025, volume biomassa yang dimanfaatkan mencapai sekitar 2,35 juta ton, dengan kontribusi signifikan dalam mengurangi emisi sebesar 2,57 juta ton CO2 ekuivalen.
PLN juga telah mendiversifikasi jenis biomassa yang digunakan, sedikitnya mencapai 14 varian dengan nilai kalor rata-rata 3.152 kCal/kg. Jenis-jenis biomassa ini mencakup cangkang sawit, sekam padi, bonggol jagung, serbuk gergaji, limbah kayu, hingga limbah rumah tangga yang telah diolah menjadi bahan bakar alternatif.
Hokkop lebih lanjut memaparkan bahwa Indonesia diberkahi dengan potensi biomassa yang sangat melimpah, diperkirakan mencapai sekitar 83,4 juta ton per tahun. Potensi ini tersebar merata di berbagai wilayah, dengan Sumatera menyumbang sekitar 42,8 juta ton, Kalimantan 18,9 juta ton, dan Jawa 13,1 juta ton per tahun. Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pemain kunci dalam transisi energi berbasis bioenergi.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar