55 NEWS – Bank Indonesia (BI) baru-baru ini merilis data yang menunjukkan lonjakan signifikan pada likuiditas perekonomian nasional. Tercatat, uang beredar dalam arti luas (M2) di Indonesia berhasil menembus angka fantastis Rp10.355,1 triliun pada Maret 2026. Angka ini merefleksikan pertumbuhan tahunan sebesar 9,7 persen (year-on-year/yoy), sebuah akselerasi yang patut dicermati mengingat pertumbuhan pada Februari 2026 hanya mencapai 8,7 persen yoy.

Related Post
Fenomena ini, sebagaimana dijelaskan oleh Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono, pada Kamis (23/4/2026), utamanya didorong oleh ekspansi uang beredar sempit (M1) yang melesat 14,4 persen yoy, serta pertumbuhan uang kuasi sebesar 5,2 persen yoy. Komponen M1 mencakup uang kartal dan giro, sementara uang kuasi meliputi tabungan, deposito berjangka, dan giro valuta asing yang tidak dapat ditarik sewaktu-waktu.

Lebih lanjut, Bank Sentral mengidentifikasi dua faktor dominan lain yang turut memicu kenaikan M2 pada periode Maret 2026. Pertama, adalah pertumbuhan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) yang melonjak drastis hingga 39,2 persen (yoy), jauh melampaui pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 25,6 persen (yoy). Peningkatan ini mengindikasikan aktivitas fiskal pemerintah yang lebih ekspansif. Kedua, adalah geliat penyaluran kredit perbankan yang pada Maret 2026 tercatat tumbuh stabil di angka 8,9 persen (yoy), mempertahankan laju yang sama dengan Februari 2026. Stabilitas pertumbuhan kredit ini menunjukkan konsistensi permintaan pembiayaan dari sektor riil.
Peningkatan uang beredar yang signifikan ini tentu menjadi sorotan para ekonom dan pelaku pasar. Meskipun dapat menjadi indikator aktivitas ekonomi yang menggeliat, lonjakan likuiditas juga perlu diwaspadai agar tidak memicu tekanan inflasi yang berlebihan di masa mendatang. Bank Indonesia, melalui kebijakan moneternya, akan terus memantau dinamika ini untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar