55tv.co.id – Nilai tukar rupiah kembali menghadapi ujian berat setelah mata uang hijau, dolar Amerika Serikat (AS), berhasil menembus angka psikologis Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Lonjakan nilai tukar ini memicu kekhawatiran di pasar keuangan domestik, mengingat pelemahan rupiah yang terjadi cukup signifikan dalam waktu singkat.

Related Post
Kondisi ini menandakan adanya tekanan hebat yang dialami mata uang Garuda di tengah ketidakpastian ekonomi global. Berdasarkan pantauan di berbagai gerai penukaran valuta asing di Jakarta, permintaan terhadap dolar AS meningkat tajam seiring dengan merosotnya daya beli rupiah terhadap mata uang dunia tersebut.

Menanggapi fenomena ini, Bank Indonesia (BI) memberikan penjelasan terkait penyebab utama di balik merosotnya nilai tukar rupiah. Pihak otoritas moneter menyebutkan bahwa kombinasi antara tekanan eksternal global dan meningkatnya kebutuhan akan valuta asing menjadi faktor pendorong utama pelemahan ini.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengungkapkan bahwa situasi ekonomi dunia saat ini sedang tidak menentu. Menurutnya, terdapat kekhawatiran mendalam terkait potensi inflasi global yang dapat memicu kebijakan moneter ketat di berbagai negara maju. Selain itu, risiko fiskal yang membayangi stabilitas ekonomi dunia turut memperparah posisi rupiah.
"Tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap inflasi global serta risiko fiskal yang meningkat," ujar Erwin dalam keterangannya.
Tidak hanya persoalan inflasi, faktor geopolitik juga memainkan peran krusial dalam memperburuk kondisi nilai tukar. Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan utama setelah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz. Situasi ini menciptakan ketidakpastian pasokan energi global yang berdampak langsung pada harga komoditas.
Salah satu dampak nyata dari ketegangan geopolitik tersebut adalah melonjaknya harga minyak mentah dunia. Harga minyak dunia tercatat telah menembus angka US$108 per barel. Kenaikan harga energi yang drastis ini secara otomatis meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai mata uang utama transaksi perdagangan komoditas internasional, yang pada akhirnya menekan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Para pelaku pasar kini tengah menunggu langkah konkret dari Bank Indonesia untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Intervensi pasar dan kebijakan moneter yang tepat sangat dinantikan guna meredam volatilitas yang terjadi agar tidak berdampak lebih luas pada sektor ekonomi riil dan inflasi domestik. Masyarakat dan pelaku usaha pun diimbau untuk tetap waspada terhadap fluktuasi nilai tukar yang masih berpotensi bergerak liar dalam beberapa waktu ke depan.










Tinggalkan komentar