55 NEWS – Pasar komoditas global kembali dihebohkan dengan prospek cerah harga emas dunia dan logam mulia yang diprediksi akan terus mencetak rekor baru. Momentum penguatan ini diperkirakan akan berlanjut, bahkan berpotensi melampaui puncak historis dalam waktu dekat.

Related Post
Setelah menutup perdagangan Sabtu pagi di level USD4.338 per troy ons, dengan harga logam mulia domestik mencapai Rp2.491.000, para analis melihat adanya dorongan kuat bagi emas untuk menembus rekor tertingginya pada Oktober lalu di level USD4.381. Ibrahim, seorang analis pasar terkemuka, dalam risetnya pada Minggu (21/12/2025), secara spesifik memproyeksikan harga emas dunia akan melonjak hingga USD4.415 dalam pekan ini, diikuti oleh harga logam mulia domestik yang diperkirakan menyentuh angka Rp2.600.000.

Lebih jauh, jika fundamental ekonomi dan stabilitas nilai tukar Rupiah terus memberikan dukungan, target harga Rp2.700.000 per gram diyakini dapat tercapai sebelum penghujung tahun ini. Namun, investor tetap disarankan untuk menjaga kewaspadaan terhadap potensi koreksi teknis. Apabila terjadi penurunan harga emas dunia, level dukungan (support) pertama berada di USD4.291, yang akan membawa estimasi harga domestik ke Rp2.475.000. Sementara itu, level dukungan kedua di USD4.256 berpotensi menekan harga logam mulia hingga Rp2.400.000. Sebaliknya, penguatan jangka pendek akan menghadapi titik resistansi pertama di USD4.378, yang diprediksi akan mendorong harga domestik ke Rp2.510.000 pada perdagangan Senin.
Di sisi lain, pergerakan nilai tukar Rupiah diproyeksikan masih akan berfluktuasi dalam rentang Rp16.680 hingga Rp16.820 per dolar AS. Dinamika ini sejalan dengan Indeks Dolar AS (DXY) yang ditutup di level 98,695, dengan rentang fluktuasi antara 98,142 hingga 99,240. Fluktuasi harga emas dan mata uang ini sangat erat kaitannya dengan kebijakan moneter yang diambil oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).
Meskipun data tenaga kerja terbaru mengisyaratkan adanya peluang penurunan suku bunga pada Januari mendatang, para ekonom tetap bersikap hati-hati. Hal ini disebabkan oleh penutupan pemerintahan (government shutdown) yang berlangsung selama 43 hari terakhir, yang telah mendistorsi data ekonomi penting seperti inflasi dan tingkat pengangguran, sehingga menyulitkan The Fed dalam membuat keputusan yang akurat.
Meski terdapat perbedaan pandangan di internal The Fed, Ibrahim menilai bahwa mayoritas gubernur bank sentral cenderung mendukung kebijakan penurunan suku bunga. Faktor ini, ditambah dengan pernyataan dari sembilan gubernur The Fed yang dijadwalkan pekan depan, akan menjadi sorotan utama bagi pelaku pasar global.
Selain faktor moneter, eskalasi geopolitik juga menjadi pendorong utama atau "booster" bagi harga emas sebagai aset aman (safe haven). Ketegangan di Amerika Latin meningkat tajam setelah Presiden Donald Trump menyatakan kesiapan untuk mengintervensi pemerintahan Maduro di Venezuela, yang ditandai dengan penangkapan kapal tanker minyak kedua. Situasi ini tidak hanya memanaskan suhu politik di kawasan tersebut, tetapi juga berpotensi mengganggu produksi minyak dunia sebesar 1,1 juta barel per hari, menambah ketidakpastian pasar.
Di Eropa, meskipun ada rencana pertemuan damai antara Rusia dan Amerika Serikat, jurang perbedaan mengenai penguasaan wilayah dan status Ukraina di NATO tetap lebar. Bahkan, bantuan persenjataan yang terus mengalir dari NATO mengisyaratkan bahwa konflik di Ukraina bisa berlanjut hingga dua tahun ke depan, semakin memperkuat daya tarik emas sebagai lindung nilai di tengah ketidakpastian global.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar