55tv.co.id – Stabilitas perekonomian Indonesia di kuartal ketiga 2026 menunjukkan kinerja prima, dengan lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) mempertahankan peringkat kredit BBB stabil. Namun, di tengah optimisme domestik, gejolak geopolitik global justru memicu meroketnya nilai komoditas safe haven, terutama emas perhiasan dan logam mulia, yang kini menjadi penyumbang signifikan laju inflasi inti nasional.

Related Post
Situasi di mana harga emas mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah ini bertepatan dengan periode evaluasi keuangan semester pertama bagi banyak pebisnis dan individu berharta tinggi. Mereka dihadapkan pada tantangan untuk memaksimalkan portofolio investasi guna memperoleh likuiditas ekstra di paruh kedua tahun 2026, tanpa harus melewatkan potensi apresiasi dari aset-aset fisik premium yang mereka miliki.

Dalam strategi manajemen kekayaan modern, menjual aset yang nilainya sedang melambung konsisten dianggap sebagai langkah kurang bijak. Emas dan jam tangan mewah Swiss dari manufaktur terkemuka seperti Patek Philippe, Audemars Piguet, atau Rolex, khususnya yang berbahan emas kuning atau rose gold, dikenal sebagai perisai ampuh melawan inflasi. Melepas aset-aset ini demi kebutuhan likuiditas jangka pendek berarti mengorbankan potensi keuntungan masif di masa depan.
Direktur Lesca Gadai Premier, Bastian Purnama, menyoroti kuartal ketiga 2026 sebagai saat yang tepat bagi para kolektor dan pengusaha untuk memanfaatkan situasi ini. "Kenaikan harga emas perhiasan dan logam mulia di pasar global saat ini adalah kesempatan emas bagi nasabah premium. Melalui skema pendanaan berbasis aset (asset-backed lending) yang kami tawarkan, mereka dapat mendayagunakan potensi tersembunyi dari koleksi premium mereka secara maksimal tanpa harus melepas kepemilikan," jelas Bastian.










Tinggalkan komentar