GEGER! Rupiah Terjun Bebas Tembus Rp17.300, Menko Airlangga Buka Suara! Terungkap Pemicu Global yang Mengguncang Stabilitas Ekonomi Nasional, Siapa Sebenarnya Pemegang Kendali?

55 NEWS – Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tekanan signifikan, menembus level psikologis Rp17.300 pada sesi perdagangan hari ini, Kamis (23/4/2026). Fluktuasi tajam ini sontak memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan masyarakat luas mengenai stabilitas ekonomi domestik.

COLLABMEDIANET

Menanggapi situasi yang berkembang, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, angkat bicara. Saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga menegaskan bahwa mandat utama untuk menjaga stabilitas nilai tukar berada di tangan Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter.

GEGER! Rupiah Terjun Bebas Tembus Rp17.300, Menko Airlangga Buka Suara! Terungkap Pemicu Global yang Mengguncang Stabilitas Ekonomi Nasional, Siapa Sebenarnya Pemegang Kendali?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Nanti kita monitor saja pergerakan nilai tukar Rupiah, karena hal ini tidak bisa disikapi secara reaktif setiap hari. Itu tugas BI untuk menjaga nilai tukar Rupiah," ujar Airlangga, memberikan sinyal bahwa pemerintah akan menyerahkan penanganan teknis kepada bank sentral, sembari tetap memantau dinamika pasar.

Namun, Airlangga juga menggarisbawahi bahwa pelemahan Rupiah kali ini tidak lepas dari imbas gejolak geopolitik global, khususnya konflik yang memanas di Timur Tengah. Menurutnya, tensi antara Amerika Serikat dan Iran telah menciptakan sentimen negatif yang meluas, memengaruhi tidak hanya Rupiah tetapi juga banyak mata uang negara lain di kawasan.

"Konflik ini memberikan tekanan terhadap nilai tukar, tidak hanya Rupiah tetapi juga banyak mata uang negara lain. Hal ini disebabkan konflik tersebut menghambat distribusi energi global, termasuk akibat potensi penutupan Selat Hormuz yang vital bagi jalur pelayaran minyak dunia," jelas Airlangga, merinci dampak domino dari ketegangan geopolitik tersebut.

Airlangga menekankan bahwa fenomena ini merupakan "turbulensi global" yang bersifat sistemik. Gangguan pada rantai pasok energi global, terutama melalui ancaman terhadap Selat Hormuz, secara langsung memicu kenaikan harga komoditas dan meningkatkan ketidakpastian, yang pada gilirannya mendorong investor mencari aset yang lebih aman seperti dolar AS. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, menjadi rentan terhadap pelemahan.

Pernyataan Airlangga ini mengindikasikan bahwa pemerintah melihat tekanan pada Rupiah sebagai bagian dari dinamika ekonomi global yang lebih besar, di mana faktor eksternal memegang peranan dominan. Fokus saat ini adalah pada pemantauan dan koordinasi kebijakan antara pemerintah dan BI untuk merespons tantangan ini secara strategis, bukan reaktif harian. Publik kini menantikan langkah konkret dari BI untuk menstabilkan Rupiah di tengah badai geopolitik global.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar