55tv.co.id – Tragedi kebakaran hebat yang melanda Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada Agustus lalu menyisakan duka mendalam bagi masyarakat setempat. Peristiwa tersebut tidak hanya meluluhlantakkan bangunan tempat tinggal, tetapi juga menghanguskan sendi-sendi ekonomi yang selama ini menjadi tumpuan hidup warga. Bagi masyarakat Sade, kehilangan bukan sekadar soal kehilangan atap untuk berteduh, melainkan hilangnya ruang untuk menyambung nyawa.

Related Post
Di tengah puing-puing sisa kebakaran, tantangan terbesar yang dihadapi warga adalah bagaimana cara untuk kembali produktif. Banyak dari mereka yang kehilangan alat kerja, bahan baku, hingga tempat usaha yang selama ini menjadi sumber penghasilan utama keluarga. Tanpa adanya dukungan, proses pemulihan ekonomi pascabencana ini akan memakan waktu yang sangat lama dan penuh ketidakpastian.

Salah satu warga yang merasakan langsung pahitnya musibah ini adalah Heppy Susanti. Sebagai seorang pengrajin yang mengandalkan keterampilan menenun, ia merasa dunianya seolah runtuh saat api melalap habis segala yang ia miliki. Baginya, kain tenun bukan sekadar komoditas, melainkan napas kehidupan bagi keluarganya.
"Yang paling berat bukan hanya kehilangan tempat tinggal atau tempat berjualan. Kami kehilangan tempat untuk bekerja. Padahal dari menenun dan menjual kain inilah kebutuhan keluarga sehari-hari dipenuhi," tutur Heppy dengan nada getir saat menceritakan kembali momen kelam tersebut.
Heppy, yang merupakan nasabah PNM Mekaar selama lima tahun terakhir, sempat merasa kehilangan arah dan harapan setelah rumah serta alat tenunnya hangus menjadi abu. Namun, di tengah masa sulit tersebut, dukungan dari pihak eksternal mulai hadir memberikan secercah cahaya.
Kehadiran PT Permodalan Nasional Madani (PNM) bersama BRI Insurance (BRINS) menjadi angin segar bagi warga Desa Sade. Bantuan yang disalurkan tidak hanya bersifat bantuan darurat sesaat, tetapi juga dirancang untuk membantu warga agar bisa kembali berdiri di atas kaki sendiri melalui pemulihan aktivitas ekonomi.
Heppy mengungkapkan rasa harunya atas kepedulian yang ditunjukkan oleh PNM. Menurutnya, bantuan yang diberikan sangat bermakna karena menyentuh aspek fundamental kehidupan mereka, yaitu kemampuan untuk kembali bekerja.
"Saya sangat terharu saat PNM datang hanya dua hari setelah kebakaran dan langsung memberikan bantuan. Sekarang, mereka datang kembali dengan bantuan yang jauh lebih bermakna bagi kami. Terima kasih karena sudah merangkul kami sejak awal hingga saat ini," ungkap Heppy dengan penuh rasa syukur.
Langkah kolaboratif antara PNM dan BRINS ini diharapkan dapat menjadi pemantik semangat bagi warga Desa Adat Sade untuk bangkit dari keterpurukan. Dengan kembalinya alat-alat kerja dan dukungan modal, masyarakat diharapkan dapat kembali menghidupkan tradisi menenun yang menjadi identitas sekaligus kekuatan ekonomi desa mereka. Upaya ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara sektor pemberdayaan ekonomi dan kepedulian sosial dapat mempercepat proses pemulihan pascabencana bagi masyarakat kecil.










Tinggalkan komentar