55 NEWS – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang berlaku sejak 10 Juni 2026 telah memicu kekhawatiran di kalangan pengemudi ojek online (ojol). Di tengah lonjakan biaya operasional, para mitra driver ini kini menggantungkan harapan besar pada stabilitas, bahkan peningkatan, jumlah orderan demi menjaga kelangsungan pendapatan mereka.

Related Post
Fenomena ini menjadi sorotan utama mengingat struktur pendapatan driver ojol yang sangat bergantung pada volume pesanan yang berhasil diselesaikan. Setiap kenaikan biaya, sekecil apa pun, berpotensi mengikis margin keuntungan yang sudah tipis dan menekan daya beli mereka.

Mahdi, seorang pengemudi Gojek di wilayah Jakarta, mengungkapkan bahwa sejauh ini, kondisi orderan masih menunjukkan kestabilan yang cukup melegakan. "Hingga saat ini, rata-rata pesanan harian masih berkisar di angka 20 order. Frekuensi penggunaan layanan oleh pelanggan juga belum menunjukkan perubahan signifikan, sehingga pendapatan kami masih relatif terjaga," ujarnya kepada 55tv.co.id pada Senin (15/6/2026).
Namun, kestabilan ini tidak lantas menghilangkan kecemasan akan masa depan. Mahdi menekankan pentingnya menjaga momentum pesanan tetap tinggi di masa mendatang. "Dalam kondisi biaya hidup yang terus merangkak naik, kestabilan order menjadi penopang utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kami sangat berharap pelanggan tetap setia menggunakan layanan transportasi online agar penghasilan mitra driver tidak tergerus," tambahnya, menyiratkan adanya tekanan inflasi yang dirasakan langsung.
Dalam menghadapi dilema kenaikan harga BBM, Mahdi mengaku masih mengandalkan Pertalite sebagai pilihan utama. Penggunaan Pertamax hanya dilakukan dalam situasi mendesak, seperti ketika antrean pengisian Pertalite terlalu panjang. Strategi ini menjadi salah satu upaya mitigasi untuk menekan biaya operasional harian yang terus membengkak.
Lebih lanjut, Mahdi juga menyoroti tekanan ekonomi yang datang dari berbagai arah. "Bukan hanya BBM, pengeluaran harian juga semakin terasa berat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya, seperti cabai, bawang, dan minyak goreng," keluhnya. Situasi ini menciptakan efek domino yang semakin mempersempit ruang gerak finansial para driver, menunjukkan kerentanan sektor informal terhadap fluktuasi harga komoditas.
Menyikapi kondisi ini, Mahdi berharap pemerintah dapat merumuskan kebijakan yang lebih peka terhadap kondisi rakyat, khususnya sektor-sektor informal yang terdampak langsung. "Penting bagi pemerintah untuk mempertimbangkan dampak kebijakan terhadap masyarakat akar rumput dan sektor vital yang menjadi tulang punggung ekonomi," tegasnya, menyerukan intervensi kebijakan yang lebih komprehensif.
Kepada perusahaan aplikator, Mahdi menyampaikan apresiasinya atas platform yang telah disediakan sebagai sumber mata pencarian. Ia juga menyuarakan harapan agar ke depan, lebih banyak program apresiasi atau penghargaan yang diberikan kepada mitra driver berprestasi, sebagai bentuk motivasi dan pengakuan atas dedikasi mereka dalam melayani masyarakat.
Secara keseluruhan, meskipun pengalaman setiap pengemudi mungkin bervariasi dalam menghadapi dampak kenaikan Pertamax, satu kesimpulan yang disepakati bersama adalah: keberlangsungan dan volume orderan tetap menjadi faktor penentu utama dalam menjaga stabilitas pendapatan harian mereka. Tanpa order yang memadai, tekanan ekonomi akan semakin memberatkan dan mengancam kesejahteraan para pekerja di sektor ekonomi gig ini.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar