Hati Hancur Lihat Anak Keracunan MBG

Hati Hancur Lihat Anak Keracunan MBG

55tv.co.id – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengungkapkan rasa keprihatinan yang mendalam terkait insiden keracunan makanan yang menimpa anak-anak dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sudaryono mengaku sangat terpukul secara emosional setiap kali menerima laporan adanya anak-anak yang jatuh sakit akibat mengonsumsi hidangan yang seharusnya menjadi sumber nutrisi bagi mereka.

COLLABMEDIANET

Bagi Sudaryono, menyaksikan dampak negatif dari program yang ia pimpin merupakan beban psikologis yang sangat berat. Dalam masa 100 hari pertama kepemimpinannya di BGN, ia merasa sangat tertekan karena melihat adanya kegagalan dalam menjamin keamanan pangan bagi para penerima manfaat. Rasa sedih ini tidak hanya datang sebagai seorang pejabat publik, tetapi juga sebagai seorang kepala keluarga yang memiliki kekhawatiran serupa terhadap keselamatan anak-anak.

Hati Hancur Lihat Anak Keracunan MBG
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Selama saya menjabat sebagai Kepala BGN dalam 100 hari ini, hal yang paling menyakitkan adalah melihat orang sakit karena program MBG. Hancur hati saya," ungkap Sudaryono dengan nada penuh penekanan dalam sebuah acara evaluasi program di Usmar Ismail Hall, Jakarta.

Untuk mengatasi permasalahan ini, BGN kini tengah memperketat pengawasan melalui standar keamanan pangan internasional. Salah satu indikator yang digunakan adalah Index Per Million Serving (IPMS), sebuah parameter yang mengukur rasio insiden gangguan pencernaan atau sakit perut per satu juta porsi makanan yang disajikan.

Jika menilik data global, negara-negara maju memiliki standar keamanan yang sangat ketat. Di Amerika Serikat, risiko insiden hampir tidak ada dengan angka 0,1 kasus per satu juta porsi. Jepang mencatatkan angka sekitar 1 kasus, sementara Uni Eropa berada di angka 1,3 kasus. Di Indonesia, tantangan masih cukup besar. Sempat menyentuh angka 5,3 pada Januari 2025, BGN kini terus berupaya menekan angka tersebut. Berdasarkan data terbaru, angka insiden turun dari 3,9 menjadi 3,6 pada periode Juli hingga Oktober.

"Skor kita saat ini masih di kisaran 3,6, yang artinya masih relatif tinggi. Target utama kami adalah mencapai level nol, seperti di Amerika Serikat, di mana tidak boleh ada satu pun anak yang jatuh sakit karena makanan," tegas Sudaryono.

Berdasarkan hasil investigasi lapangan, Sudaryono memberikan catatan kritis mengenai faktor penyebab keracunan. Ia menekkan bahwa kunci utama keamanan makanan terletak pada ketepatan pengaturan waktu pengolahan dan kontrol suhu. Ia menjelaskan bahwa bakteri pembusuk berkembang sangat cepat pada rentang suhu berbahaya, yakni antara 5 hingga 60 derajat Celsius.

Ia memberikan peringatan keras bahwa makanan harus disajikan dalam kondisi panas di atas 60 derajat Celsius atau disimpan dalam kondisi dingin di bawah 5 derajat Celsius untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Salah satu contoh kasus fatal yang ditemukan adalah di Karo, di mana ikan mentah dibiarkan pada suhu ruangan selama lebih dari 12 jam karena keterbatasan kapasitas lemari pembeku.

"Inti dari keamanan makanan adalah soal waktu dan suhu. Jika makanan dibiarkan terlalu lama pada rentang suhu 5 hingga 60 derajat, makanan akan basi dan berisiko meracuni orang," pungkasnya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar