55tv.co.id – Kebutuhan akan tempat tinggal yang layak di wilayah perkotaan kini tidak lagi sekadar soal harga bangunan yang murah. Bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), tantangan sesungguhnya terletak pada aksesibilitas dan efisiensi waktu tempuh menuju tempat kerja. Menjawab tantangan tersebut, Perum Perumnas secara resmi mengumumkan rencana pembangunan 768 unit rumah subsidi yang dirancang khusus dengan konsep Transit-Oriented Development (TOD) di tiga lokasi strategis Jabodetabek.

Related Post
Konsep TOD yang diusung dalam proyek ini bertujuan untuk mengintegrasikan kawasan hunian dengan moda transportasi publik secara langsung. Dengan demikian, para penghuni nantinya dapat dengan mudah mengakses transportasi umum tanpa harus menempuh jarak jauh atau mengeluarkan biaya transportasi yang membengkak. Hal ini menjadi solusi konkret bagi masyarakat kelas menengah ke bawah yang selama ini kesulitan mendapatkan hunian di tengah mahalnya harga tanah di pusat kota.

Plt Direktur Utama Perum Perumnas, Imelda Alini Pohan, menekankan bahwa definisi hunian terjangkau bagi MBR harus dilihat dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, harga rumah yang rendah tidak akan memberikan manfaat maksimal jika lokasi hunian tersebut justru menjauhkan penghuninya dari pusat aktivitas ekonomi.
"Hunian yang terjangkau bagi MBR tidak cukup hanya diukur dari harga rumah. Lokasi, akses terhadap transportasi publik, serta biaya dan waktu perjalanan sehari-hari juga menentukan keterjangkauan yang sesungguhnya," ujar Imelda dalam keterangan tertulisnya, Rabu (23/9/2026).
Secara mendetail, ke-768 unit hunian subsidi ini akan didistribusikan ke tiga kawasan utama. Sebanyak 256 unit akan dibangun di kawasan Samesta Mahata Tanjung Barat. Selanjutnya, sebanyak 182 unit akan ditempatkan di kawasan Samesta Mahata Margonda, dan porsi terbesar yakni sebanyak 330 unit akan dikembangkan di kawasan Samesta Mahata Serpong.
Ketiga lokasi tersebut dipilih karena memiliki konektivitas yang sangat tinggi dengan jaringan transportasi massal, sehingga sangat ideal untuk mendukung mobilitas warga perkotaan yang dinamis. Kehadiran hunian ini diharapkan dapat memutus rantai pemukiman kumuh di pinggiran kota yang biasanya muncul akibat ketidakmampuan warga membeli rumah di pusat kota.
Menariknya, tingginya minat masyarakat terhadap konsep hunian terintegrasi ini terlihat dari antusiasme calon pembeli. Pihak Perumnas mengungkapkan bahwa unit subsidi yang berlokasi di kawasan Margonda dan Tanjung Barat dilaporkan telah terserap habis atau terjual seluruhnya. Hal ini membuktikan bahwa konsep hunian yang mengutamakan kemudahan akses transportasi publik merupakan kebutuhan primer yang sangat dicari oleh masyarakat berpenghasilan rendah saat ini.










Tinggalkan komentar