55tv.co.id – Pasar modal Indonesia diprediksi akan menunjukkan geliat positif pada pekan mendatang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan rentang pergerakan antara 6.000 hingga 6.215 selama periode perdagangan 12 hingga 16 Oktober 2026. Skenario penguatan atau bullish terbuka lebar, memberikan peluang bagi pasar untuk melanjutkan fase pemulihan (rebound).

Related Post
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari, mengungkapkan bahwa arah pergerakan indeks dalam sepekan ke depan akan sangat bergantung pada konsistensi momentum teknikal yang sedang terbentuk. Jika IHSG mampu mempertahankan ritme positifnya, indeks berpotensi melanjutkan tren penguatan menuju area penutupan gap di level 6.227 hingga 6.231.

Namun, investor diingatkan untuk tetap waspada terhadap risiko penurunan. "Apabila IHSG gagal mempertahankan momentum dan justru menembus ke bawah level 5.973, maka risiko koreksi lanjutan menuju zona 5.850-5.911 perlu diwaspadai," ujar Brigita dalam laporan risetnya, Senin (12/10/2026).
Secara teknikal, IHSG menunjukkan performa yang cukup solid pada penutupan perdagangan Jumat (9/10/2026) dengan mencatatkan kenaikan sebesar 1,04 persen ke posisi 6.093,76. Indeks juga berhasil bertahan di atas level psikologis 6.000 dan ditutup di atas garis MA3. Meskipun demikian, pemulihan tren jangka menengah belum sepenuhnya terkonfirmasi karena indeks belum berhasil menembus garis MA20.
Berdasarkan indikator momentum, histogram negatif MACD menunjukkan tren yang semakin menyempit, yang mengindikasikan bahwa tekanan jual mulai berkurang. Meski begitu, potensi death cross pada Stochastic RSI di area pivot menunjukkan bahwa penguatan jangka pendek masih memiliki risiko tertahan.
Menilik data perdagangan pada pekan sebelumnya (5-9 Oktober 2026), IHSG mencatatkan kenaikan sebesar 0,94 persen atau bertambah 56,87 poin. Kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mengalami kenaikan sebesar 0,69 persen menjadi Rp10.701 triliun.
Menariknya, meskipun indeks menguat, investor asing justru mencatatkan aksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp2,44 triliun. Saham yang paling banyak diburu investor asing adalah ULTJ, MEDC, dan EMAS. Sebaliknya, saham yang paling banyak dilepas oleh asing adalah GOTO, BBCA, dan BMRI.
Brigita menambahkan bahwa dinamika pasar ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Volatilitas saham teknologi di Wall Street, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS, serta risiko geopolitik menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar. Meski demikian, sentimen global sempat membaik pada akhir pekan lalu seiring dengan penguatan indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq yang didorong oleh pemulihan sektor teknologi.










Tinggalkan komentar