Jangan Kaget! Sawit Bukan Sekadar Komoditas, Tapi Pahlawan Ganda Penyelamat Miliaran Dolar Impor Solar dan Penopang Ketahanan Pangan Nasional: Analisis DEN Ungkap Potensi Tak Terduga!

Jangan Kaget! Sawit Bukan Sekadar Komoditas, Tapi Pahlawan Ganda Penyelamat Miliaran Dolar Impor Solar dan Penopang Ketahanan Pangan Nasional: Analisis DEN Ungkap Potensi Tak Terduga!

55 NEWS – Dewan Energi Nasional (DEN) menegaskan bahwa program biodiesel berbasis kelapa sawit telah bertransformasi menjadi pilar strategis dalam kebijakan energi nasional. Anggota DEN, Fadhil Hasan, menyoroti peran ganda biodiesel yang tak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

COLLABMEDIANET

Fadhil menjelaskan bahwa langkah pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 40 Tahun 2025 sebagai revisi Kebijakan Energi Nasional sebelumnya, merupakan respons proaktif terhadap tantangan krusial. Tantangan tersebut meliputi penurunan produksi minyak domestik, lonjakan impor energi, serta tuntutan peningkatan kebutuhan energi seiring ambisi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.

Jangan Kaget! Sawit Bukan Sekadar Komoditas, Tapi Pahlawan Ganda Penyelamat Miliaran Dolar Impor Solar dan Penopang Ketahanan Pangan Nasional: Analisis DEN Ungkap Potensi Tak Terduga!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Dalam keterangannya yang diterima 55tv.co.id, Fadhil menegaskan, "Biodiesel memegang peranan strategis dalam mewujudkan swasembada energi. Lebih dari itu, kelapa sawit beserta produk turunannya tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi terbarukan, tetapi juga krusial dalam menopang ketahanan pangan nasional." Pernyataan ini menggarisbawahi interkoneksi antara sektor energi dan pangan yang semakin erat.

Data menunjukkan, sepanjang tahun sebelumnya, realisasi penyaluran biodiesel mencapai 14,2 juta kiloliter. Angka ini secara langsung berkorelasi dengan pengurangan impor solar sekitar 3,3 juta kiloliter, sebuah pencapaian yang secara signifikan meningkatkan indeks ketahanan energi nasional. Penghematan devisa dari pengurangan impor ini menjadi angin segar bagi neraca perdagangan Indonesia.

Herbert Wibert Victor, Subkoordinator Pengawasan Usaha Bioenergi dari Direktorat Bioenergi, Ditjen EBTKE, Kementerian ESDM, menjelaskan mekanisme distribusi biodiesel. Menurutnya, bahan bakar nabati ini disalurkan melalui skema pencampuran wajib (blending) di fasilitas terminal sebelum didistribusikan lebih lanjut ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan sektor industri. Untuk tahun 2026, kapasitas terpasang industri biodiesel diperkirakan mencapai 22 juta kiloliter, dengan proyeksi alokasi penyaluran sekitar 16,5 juta kiloliter. Menariknya, realisasi penyaluran pada tahun 2025 telah menyentuh angka hampir 15 juta kiloliter, atau sekitar 96 persen dari target yang ditetapkan.

Guna menjamin keberlanjutan program vital ini, pemerintah juga telah merancang skema insentif yang didasarkan pada selisih harga solar, mencakup baik sektor Public Service Obligation (PSO) maupun non-PSO. Di kancah internasional, Indonesia kini diakui sebagai salah satu pionir dan pelaksana program biodiesel terbesar di dunia, demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Ernest Gunawan. Ia menambahkan bahwa keberhasilan Indonesia dalam mengimplementasikan mandat campuran hingga B40 secara nasional telah menjadikannya rujukan penting bagi banyak negara lain yang ingin meniru kesuksesan ini dalam transisi energi mereka.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar