55tv.co.id – Siapa sangka limbah dapur yang selama ini dianggap sebagai sampah yang mengotori saluran air, kini bertransformasi menjadi energi canggih untuk menerbangkan pesawat. Melalui inovasi teknologi terbaru, minyak jelantah kini tidak lagi berakhir di tempat pembuangan, melainkan diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Related Post
Langkah revolusioner ini dijalankan oleh PT Pertamina Patra Niaga melalui fasilitas Green Refinery yang berlokasi di Cilacap, Jawa Tengah. Proyek ini bukan sekadar upaya menjaga kelestarian alam, tetapi juga menjadi strategi cerdas dalam menciptakan ekonomi sirkular yang melibatkan peran aktif masyarakat luas.

Inovasi ini mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, melakukan kunjungan langsung ke Kilang Cilacap pada Senin (26/10/2026) untuk meninjau proses pengolahan tersebut. Kehadiran Wapres bertujuan untuk memastikan bahwa pengembangan energi terbarukan di dalam negeri berjalan selaras dengan pemanfaatan limbah dan kemajuan teknologi nasional.
Dalam kunjungannya, Gibran memberikan apresiasi sekaligus menekankan bahwa proyek ini harus memberikan dampak sosial yang nyata. Ia melihat adanya potensi besar jika pengembangan bahan bakar berkelanjutan ini disinergikan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat kecil.
"Pengembangan SAF harus berjalan bersama pemberdayaan masyarakat. Sehingga minyak jelantah yang dikelola ibu-ibu melalui bank sampah dapat memiliki nilai ekonomi dan terhubung dengan industri nasional," ujar Gibran di sela-sela peninjauannya.
Menurut Gibran, keterlibatan masyarakat, terutama melalui pengelolaan bank sampah di tingkat rumah tangga, akan memberikan nilai tambah bagi warga. Minyak jelantah yang tadinya tidak bernilai, kini bisa dikumpulkan dan dijual untuk menjadi bahan baku industri, sehingga menciptakan sumber pendapatan baru bagi keluarga.
Menjelaskan lebih detail mengenai teknis produksinya, Wakil Direktur Utama I Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, mengungkapkan bahwa perusahaan tengah menjalankan Project Pertamina SAF di Cilacap. Proses ini memanfaatkan fasilitas Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT) dengan metode co-processing.
Dalam skema co-processing tersebut, minyak jelantah tidak diolah sendirian, melainkan dicampur dengan komponen bahan baku lainnya dalam satu proses pengolahan. Hasil akhirnya adalah bahan bakar jet yang memiliki jejak karbon jauh lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil konvensional.
Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa Indonesia serius dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global. Dengan mengubah limbah menjadi energi, Indonesia tidak hanya mengurangi polusi udara dari sektor penerbangan, tetapi juga membangun kemandirian energi berbasis sumber daya lokal yang berkelanjutan. Melalui sinergi antara industri besar dan gerakan masyarakat, masa depan energi hijau Indonesia kini tampak semakin menjanjikan.










Tinggalkan komentar