Bahlil Jawab Sindiran PM Singapura

Bahlil Jawab Sindiran PM Singapura

55tv.co.id – Ketegangan diplomatik terkait pasokan energi antara Indonesia dan Singapura kini tengah menjadi sorotan publik. Hal ini dipicu oleh pernyataan kritis Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, yang menyinggung soal komitmen kontrak pasca keputusan pemerintah Indonesia untuk melakukan pemangkasan ekspor gas alam ke negara tetangga tersebut.

COLLABMEDIANET

Menanggapi kritik yang dilontarkan oleh pemimpin Singapura itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan respons yang cukup menohok. Bahlil menegaskan bahwa Indonesia bukanlah negara yang sembarangan dalam urusan kesepakatan internasional. Ia memastikan bahwa seluruh kebijakan yang diambil pemerintah tetap berpijak pada koridor hukum dan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.

Bahlil Jawab Sindiran PM Singapura
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Negara kita adalah negara yang sangat menghargai kontrak dan aturan yang berlaku. Jadi, jangan mencoba mengajari Indonesia tentang bagaimana cara menghargai sebuah komitmen kontrak," tegas Bahlil dengan nada lugas saat memberikan keterangan kepada media, Senin (26/10/2026).

Bahlil menjelaskan bahwa langkah pengurangan pasokan gas sebesar 31 miliar British thermal unit per hari (BBTUD) bukanlah sebuah pelanggaran terhadap perjanjian. Menurutnya, angka pengurangan tersebut masih berada dalam batas minimum yang telah diatur secara legal dalam kontrak kerja sama antara kedua negara.

Lebih lanjut, Menteri ESDM memaparkan rincian teknis mengenai distribusi gas Indonesia ke Singapura. Saat ini, pasokan gas dialirkan melalui jaringan pipa dari dua wilayah utama, yakni Natuna dan Sumatera. Secara akumulatif, total volume gas yang dikirimkan mencapai angka 409,55 juta kaki kubik per hari.

Berdasarkan data yang dimiliki pemerintah, pemangkasan sebesar 31 BBTUD tersebut sebenarnya hanya merepresentasikan sekitar 8 persen dari total volume ekspor gas melalui pipa yang dilakukan Indonesia. Bahlil juga memberikan perspektif lain untuk meluruskan persepsi yang berkembang di publik maupun di pihak Singapura.

"Jika kita melihat angka 31 BBTUD itu, sebenarnya itu hanya sekitar 2 persen dari total konsumsi energi di negara sahabat kita. Namun, jika total pasokan 409 juta kaki kubik itu tidak berjalan, dampaknya akan jauh lebih besar, yakni mencapai sekitar 30 persen terhadap kebutuhan mereka," tambah Bahlil.

Pernyataan ini seolah ingin menegaskan bahwa Indonesia tetap menjadi mitra energi yang sangat krusial bagi Singapura. Meskipun ada penyesuaian volume, Indonesia tetap menjaga stabilitas pasokan agar tidak mengganggu kebutuhan energi di negara tetangga tersebut secara drastis.

Kasus ini menjadi pengingat pentingnya transparansi dan ketegasan dalam pengelolaan sumber daya alam nasional. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk tetap menjalankan kewajiban internasionalnya, namun tetap mengutamakan kepentingan energi domestik dan kepatuhan terhadap klausul kontrak yang melindungi kedaulatan energi nasional.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar