55tv.co.id – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kini tengah bersiap untuk melakukan lompatan besar dalam sektor ekonomi berbasis perkebunan. Wilayah ini dinilai memiliki peluang emas untuk bertransformasi menjadi salah satu pusat atau sentra industri kelapa berskala nasional. Langkah strategis ini diambil guna mengoptimalkan kekayaan alam daerah yang selama ini belum tergarap secara maksimal melalui proses hilirisasi.

Related Post
Upaya menjadikan NTB sebagai pemain utama dalam industri kelapa tidak hanya sekadar wacana. Pemerintah dan para pelaku usaha tengah merancang rencana besar, salah satunya melalui persiapan pembangunan pabrik pengolahan kelapa. Kehadiran fasilitas pengolahan ini diharapkan mampu mengubah pola pikir petani, dari yang semula hanya menjual kelapa dalam bentuk mentah, menjadi penyedia bahan baku industri yang memiliki nilai tambah tinggi.

Namun, ambisi besar ini tentu menghadapi tantangan tersendiri. Untuk membangun industri yang berkelanjutan, ketersediaan bahan baku menjadi kunci utama. Oleh karena itu, fokus pengembangan tidak hanya tertuju pada pembangunan pabrik, tetapi juga pada aspek hulu, yakni peremajaan tanaman kelapa dan peningkatan produktivitas lahan perkebunan di seluruh wilayah NTB. Tanpa pasokan buah yang stabil dan berkualitas, operasional pabrik pengolahan nantinya akan terhambat.
Pendiri Kelompok Usaha, Jerry Hermawan Lo, memberikan pandangan optimis mengenai prospek komoditas ini. Menurutnya, kelapa adalah tanaman yang sangat istimewa karena memiliki masa produktif yang sangat panjang dibandingkan tanaman perkebunan lainnya. Karakteristik inilah yang membuat kelapa menjadi aset jangka panjang yang sangat berharga bagi perekonomian daerah.
"Jika dirawat dengan manajemen yang baik, umur produktif tanaman kelapa bisa mencapai 50 hingga 60 tahun. Ini adalah investasi jangka panjang yang luar biasa," ujar Jerry dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026).
Lebih lanjut, Jerry menekankan bahwa NTB tidak perlu merasa kalah bersaing dengan provinsi lain yang memiliki luas perkebunan kelapa sawit yang masif. Menurutnya, potensi ekonomi yang ditawarkan oleh kelapa sangatlah luas karena hampir seluruh bagian dari tanaman ini dapat diolah menjadi produk turunan yang bernilai ekonomi tinggi. Mulai dari santan, minyak kelapa, kopra, hingga produk sampingan lainnya yang menyasar pasar ekspor.
Dengan strategi hilirisasi yang tepat, NTB diharapkan tidak hanya menjadi penonton dalam rantai pasok global, tetapi menjadi produsen utama yang mampu menyerap tenaga kerja lokal secara signifikan. Transformasi dari sektor pertanian tradisional menuju industri pengolahan ini diprediksi akan menjadi motor penggerak baru bagi pertumbuhan ekonomi di Nusa Tenggara Barat dalam beberapa dekade mendatang.










Tinggalkan komentar