Rupiah Tertekan Dolar AS di Level 18168

Rupiah Tertekan Dolar AS di Level 18168

55tv.co.id – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (4/11/2026). Mata uang Garuda tersebut terdepresiasi tipis sebesar 8 poin atau sekitar 0,04 persen, sehingga berakhir di level Rp18.168 per dolar AS. Kondisi ini mencerminkan masih kuatnya dominasi dolar di pasar global akibat berbagai sentimen geopolitik dan ekonomi yang sedang berkembang.

COLLABMEDIANET

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap rupiah salah satunya dipicu oleh dinamika politik di Amerika Serikat. Saat ini, perhatian pelaku pasar global tertuju sepenuhnya pada hasil pemilihan paruh waktu (midterm election) di Negeri Paman Sam. Berdasarkan hasil penghitungan suara yang masih berjalan, Partai Demokrat sejauh ini berhasil mengamankan 51 kursi di Senat Amerika Serikat.

Rupiah Tertekan Dolar AS di Level 18168
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Angka 51 kursi tersebut merupakan batas minimal untuk menguasai mayoritas di Senat AS. Sementara itu, Partai Republik masih tertahan di angka 39 kursi. Meskipun proses penghitungan suara masih terus berlangsung, hasil sementara ini memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan pasar keuangan global, termasuk terhadap nilai tukar rupiah.

Selain faktor politik domestik AS, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menjadi faktor krusial yang membayangi pasar. Dunia saat ini tengah menanti kepastian mengenai upaya deeskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Upaya mediasi yang dilakukan oleh Qatar terus diupayakan guna mencegah terjadinya serangan balasan yang lebih luas pasca pemilihan paruh waktu di AS.

Situasi semakin memanas setelah pejabat senior Iran menyatakan kepada media bahwa belum ada kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik yang tengah berlangsung. Di sisi lain, pihak Amerika Serikat sempat mengonfirmasi adanya serangan bersifat "defensif" di Pulau Qeshm, Iran, yang menyasar rudal darat-ke-udara. Meski serangan tersebut dinilai terbatas dan tidak mengarah pada perang skala besar, ketidakpastian ini tetap membuat investor cenderung memegang dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

Menariknya, Presiden AS Donald Trump sempat memberikan pernyataan yang sedikit menenangkan pasar melalui wawancara dengan Financial Times. Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki rencana dalam waktu dekat untuk melancarkan serangan militer besar-besaran ke Iran, dengan menyebut bahwa tujuan strategis mereka sejauh ini telah tercapai.

Namun, kekuatan dolar AS tidak hanya didorong oleh faktor ketegangan perang, tetapi juga oleh data ekonomi domestik Amerika yang sangat solid. Laporan JOLTS Job Openings menunjukkan angka pembukaan lapangan kerja yang melampaui ekspektasi pasar. Data tersebut mencatat kenaikan menjadi 7,523 juta pada bulan September, melonjak signifikan dari angka sebelumnya yakni 7,19 juta. Kekuatan pasar tenagaaga kerja AS ini menjadi katalis utama yang memperkuat posisi dolar AS di mata mata uang dunia, termasuk rupiah.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar