55tv.co.id – Bank Indonesia (BI) baru saja merilis data terbaru mengenai kondisi likuiditas moneter di tanah air. Berdasarkan laporan resmi yang dirilis pada Rabu (7/10/2026), tercatat adanya tren perlambatan pada pertumbuhan Uang Primer (M0) Adjusted selama periode September 2026.

Related Post
Data menunjukkan bahwa Uang Primer Adjusted mengalami pertumbuhan sebesar 9,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini menunjukkan penurunan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan capaian pada bulan sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada bulan Agustus, pertumbuhan uang primer tersebut masih berada di level yang jauh lebih tinggi, yakni mencapai 16,3 persen (yoy).

Secara nominal, total Uang Primer Adjusted yang tercatat pada September 2026 menyentuh angka Rp2.353,1 triliun. Meskipun mengalami perlambatan dibandingkan bulan lalu, angka ini tetap menjadi indikator penting bagi para pelaku pasar untuk memantau arah kebijakan moneter yang diambil oleh bank sentral.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa dinamika pertumbuhan ini dipicu oleh dua komponen utama. Komponen pertama adalah pertumbuhan uang kartal yang diedarkan ke masyarakat, yang mencatatkan kenaikan sebesar 11,8 persen (yoy). Sementara itu, komponen kedua adalah giro bank umum di Bank Indonesia adjusted yang tumbuh lebih moderat, yakni sebesar 3,9 persen (yoy).
"Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan uang kartal yang diedarkan sebesar 11,8 persen (yoy) dan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 3,9 persen (yoy)," ujar Ramdan dalam keterangan resminya kepada awak media.
Penting untuk dipahami oleh masyarakat luas maupun pelaku industri keuangan bahwa istilah Uang Primer Adjusted memiliki makna teknis yang spesifik. Indikator ini digunakan untuk menggambarkan perkembangan uang primer dengan cara mengisolasi dampak dari penurunan giro bank di Bank Indonesia. Hal ini dilakukan guna melihat gambaran yang lebih murni setelah memperhitungkan dampak dari pemberian insentif likuiditas atau kebijakan pengendalian moneter yang sedang berjalan.
Secara teknis, Uang Primer Adjusted merupakan hasil penyesuaian uang primer dengan nominal giro bank. Perhitungan ini didasarkan pada ketentuan Giro Wajib Minimum (GWM) yang dikalikan dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada setiap periode berjalan.
Perlambatan pertumbuhan ini menjadi perhatian bagi para analis ekonomi. Penurunan laju pertumbuhan dari 16,3 persen ke 9,3 persen mengindikasikan adanya penyesuaian dalam peredaran uang di sistem perbankan nasional. Para pengamat menilai, kondisi ini bisa jadi merupakan dampak dari kebijakan pengendalian likuiditas yang dilakukan BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu.
Dengan kondisi likuiditas yang lebih terkendali, diharapkan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, meskipun perbankan harus lebih selektif dalam mengelola ketersediaan dana segar untuk penyaluran kredit ke masyarakat.










Tinggalkan komentar