Petambak Ini Ungkap Rahasia Panen Udang Dobel

Petambak Ini Ungkap Rahasia Panen Udang Dobel

55tv.co.id – Selama hampir dua dekade, Herman dan anggota Kelompok Tani Tambak (KTT) Tias Berkah di Desa Tanjung Buka Kabupaten Bulungan Kalimantan Utara, menggantungkan hidup dari budidaya udang windu. Hamparan tambak tradisional menjadi saksi bisu perjuangan mereka. Namun, kondisi lingkungan pesisir yang kian memburuk, terutama kualitas air laut yang menurun, membuat hasil panen udang tak lagi stabil. Mereka terpaksa mencari solusi inovatif demi menjaga produktivitas sekaligus memulihkan ekosistem.

COLLABMEDIANET

Terobosan penting itu tiba pada tahun 2024 melalui Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR). Herman bersama kelompoknya memutuskan untuk mengadopsi metode silvofishery. Ini adalah sistem budidaya yang secara cerdas mengintegrasikan penanaman mangrove dengan aktivitas perikanan di area tambak. Sebuah langkah yang bukan hanya menjanjikan peningkatan hasil, tetapi juga pelestarian lingkungan.

Petambak Ini Ungkap Rahasia Panen Udang Dobel
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Awalnya Herman sempat dilanda kekhawatiran. Ia cemas jika ada mangrove ruang untuk udang akan menyempit dan akarnya yang besar dapat mengganggu area budidaya. Namun pendekatan baru ini mengubah pandangannya secara drastis. Ia kini menyadari bahwa keberlanjutan tambak tidak harus bertentangan dengan pelestarian mangrove. Justru keduanya bisa berjalan harmonis memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir sekaligus menjaga ekosistem.

Kekhawatiran itu perlahan sirna berkat pendampingan intensif dari M4CR. Proses dimulai dengan sosialisasi prakondisi menggunakan pendekatan Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (PADIATAPA) dilanjutkan dengan edukasi mendalam melalui sekolah lapang. Para petambak tidak hanya dibekali pengetahuan teknis penanaman dan pemeliharaan mangrove, tetapi juga diajarkan manajemen tambak yang komprehensif.

Mulai dari pengaturan buka-tutup pintu air pengendalian salinitas hingga pemantauan pH air semua diajarkan untuk menciptakan kondisi optimal bagi pertumbuhan udang. Berbekal ilmu baru ini KTT Tias Berkah segera merehabilitasi kawasan mangrove seluas 77 hektare dengan menanam sekitar 800 bibit per hektare. Pekerjaan tidak berhenti setelah penanaman. Herman dan anggota kelompoknya rutin melakukan penyulaman bibit yang mati membersihkan gulma serta memantau pertumbuhan mangrove secara berkala.

Upaya gigih ini membuahkan hasil yang luar biasa. Tingkat keberhasilan tumbuh mangrove mencapai 87% membawa perubahan signifikan pada kondisi tambak. Produksi udang windu yang sebelumnya hanya berkisar 100 hingga 150 kilogram per panen, kini melonjak drastis menjadi sekitar 150 hingga 300 kilogram per panen. Sebuah bukti nyata bahwa harmoni antara manusia dan alam dapat menghasilkan keuntungan berlipat ganda.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar