55 NEWS – Di tengah gelombang revolusi kecerdasan buatan (AI) yang kian masif, sebuah pandangan menarik muncul dari Jeffrey Alvin Alimsyah, Direktur Coding Bee Academy. Ia menegaskan bahwa alih-alih tergerus, pembelajaran coding justru memegang peranan fundamental dalam membentuk pola pikir adaptif siswa, sebuah aset krusial di lanskap ekonomi digital mendatang.

Related Post
Jeffrey menyoroti bagaimana AI telah meresap ke berbagai sendi perekonomian global. Dari sektor perkantoran, keuangan, pemasaran, hingga industri kreatif, otomatisasi kini mampu merampungkan tugas-tugas kompleks dalam hitungan waktu, mengubah paradigma pekerjaan secara drastis. Fenomena ini, menurutnya, bukan lagi isapan jempol, melainkan realitas yang harus dihadapi oleh setiap individu dan institusi.

Namun, ia menolak keras narasi yang menyebut kehadiran AI akan membuat pembelajaran coding menjadi usang. "Siswa tidak belajar matematika untuk mengalahkan kalkulator, melainkan untuk mengasah kemampuan pemecahan masalah," jelas Jeffrey dalam keterangannya yang diterima 55tv.co.id, Rabu (22/4/2026). Ia melanjutkan, "Demikian pula dengan coding. Ini adalah medium untuk melatih cara berpikir analitis, kritis, dan beragam keterampilan kognitif lainnya yang tak ternilai harganya di era disrupsi teknologi."
Risiko terbesar, lanjut Jeffrey, justru terletak pada metode pendidikan yang hanya menekankan hafalan dan kepatuhan instruksi. Pola belajar semacam ini, ia peringatkan, akan menempatkan generasi muda pada posisi yang tidak menguntungkan, bersaing langsung dengan mesin yang jauh lebih cepat dan efisien dalam menjalankan tugas repetitif. "Jika siswa kita hanya dilatih untuk mengikuti instruksi, menghafal, atau mengulang proses, maka mereka akan bersaing langsung dengan mesin dan program perangkat lunak yang dapat melakukan hal-hal tersebut jauh lebih cepat dan efisien," tegasnya.
Menjawab tantangan ini, Coding Bee Academy hadir dengan visi yang melampaui sekadar penguasaan sintaksis. Mereka berfokus pada pembentukan pola pikir siswa agar tidak hanya adaptif terhadap perubahan teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, berinovasi, dan menciptakan nilai tambah di era yang didominasi AI. Pendekatan ini diharapkan dapat membekali siswa dengan ‘mata uang’ keterampilan yang relevan dan tak tergantikan di pasar kerja masa depan, memastikan mereka menjadi pencipta, bukan sekadar operator, dalam ekosistem ekonomi digital.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar