55tv.co.id – Bank Rakyat Indonesia BRI mengungkap fakta mengejutkan terkait tantangan terbesar yang dihadapi Usaha Mikro Kecil dan Menengah UMKM di tengah krisis iklim. Bukan kebijakan transisi ekonomi rendah karbon seperti pajak karbon yang menjadi momok utama melainkan ancaman fisik langsung dari perubahan iklim itu sendiri.

Related Post
Ancaman nyata ini meliputi serangkaian bencana alam yang semakin sering terjadi seperti banjir kekeringan hingga cuaca ekstrem yang tak menentu. Dampak langsung dari fenomena ini jauh lebih mendesak dan berpotensi melumpuhkan operasional UMKM dibandingkan regulasi transisi energi.

Yosephine Ajeng Sekar Putih Group Head of ESG BRI menegaskan bahwa pendekatan penerapan prinsip lingkungan sosial dan tata kelola ESG tidak bisa disamakan antara korporasi besar dan UMKM. Segmen usaha mikro memiliki karakteristik unik yang menuntut strategi keberlanjutan yang disesuaikan.
Menurut Ajeng prioritas utama pelaku UMKM saat ini adalah menjaga kelangsungan operasional dan profitabilitas bisnis mereka. Oleh karena itu mereka belum siap untuk langsung dibebani dengan tuntutan standar ESG yang kompleks seperti perhitungan jejak karbon atau sertifikasi keberlanjutan yang rumit.
BRI menyarankan agar konsep keberlanjutan perlu disederhanakan agar lebih mudah dipahami dan diterapkan sesuai dengan kapasitas serta kebutuhan spesifik UMKM. Pendekatan yang praktis dan relevan akan lebih efektif dalam membantu UMKM beradaptasi menghadapi tantangan iklim. Pernyataan ini disampaikan Ajeng dalam acara IDX ESG Conference 2026 di Main Hall Gedung Bursa Efek Indonesia BEI pada Kamis 23 Juli 2026.










Tinggalkan komentar