Rahasia Saham Syariah Tetap Kokoh Saat Pasar Lesu

Rahasia Saham Syariah Tetap Kokoh Saat Pasar Lesu

55tv.co.id – Fenomena fluktuasi pasar modal sering kali menjadi momok menakutkan bagi para investor, terutama ketika indeks saham nasional mengalami tren penurunan yang cukup signifikan. Namun, di tengah badai tekanan pasar yang melanda bursa domestik, instrumen saham berbasis syariah justru menunjukkan performa yang berbeda. Alih-alih ikut terperosok dalam koreksi tajam, saham-saham yang masuk dalam kategori syariah dinilai memiliki daya tahan atau resiliensi yang jauh lebih kuat dibandingkan saham konvensional.

COLLABMEDIANET

Berdasarkan pengamatan dari Bursa Efek Indonesia (BEI), ketangguhan saham syariah ini bukan tanpa alasan. Ada dua faktor fundamental yang menjadi pilar utama mengapa portofolio syariah mampu bertahan lebih baik saat kondisi ekonomi sedang tidak menentu. Pertama adalah struktur komposisi sektor industri di dalamnya, dan kedua adalah karakteristik perilaku transaksinya.

Rahasia Saham Syariah Tetap Kokoh Saat Pasar Lesu
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengungkapkan bahwa salah satu alasan utama ketahanan ini terletak pada absennya emiten perbankan konvensional dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Dalam struktur pasar modal, sektor perbankan konvensional biasanya memiliki bobot yang sangat besar dan menjadi penggerak utama indeks. Ketika pasar mengalami tekanan, sektor perbankan sering kali menjadi pihak pertama yang mengalami koreksi harga secara masif.

"Karena dalam ISSI tidak terdapat emiten perbankan konvensional, maka saham syariah relatif minim terkena dampak koreksi tajam yang biasanya menyerang sektor perbankan saat kondisi pasar sedang tertekan," ujar Jeffrey dalam sebuah kesempatan di Lombok, Sabtu (31/10/2026).

Selain faktor komposisi sektor, aspek psikologi dan mekanisme transaksi investor juga memegang peranan krusial. Dalam prinsip investasi syariah, transaksi dilakukan tanpa melibatkan unsur riba, yang berarti investor tidak diperbolehkan menggunakan fasilitas pinjaman berbasis bunga untuk membeli saham. Salah satu praktik yang dilarang adalah transaksi margin.

Hal ini memberikan keuntungan keamanan bagi investor syariah. Dalam transaksi konvensional, penggunaan margin sering kali memicu risiko margin call atau penjualan paksa (forced sell) oleh perusahaan sekuritas ketika harga saham turun hingga titik tertentu. Namun, karena investor syariah bertransaksi dengan dana murni tanpa utang berbunga, risiko terjebak dalam aksi jual paksa akibat tekanan margin dapat dihindari sepenuhnya.

"Investor syariah bertransaksi tanpa riba, apalagi menggunakan margin. Jadi, secara otomatis risiko margin call atau forced sell tidak akan terjadi pada mereka," tambah Jeffrey menjelaskan.

Kondisi ini menjadi sangat relevan mengingat performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sedang mengalami tantangan berat. Hingga akhir Oktober 2026, IHSG tercatat berada di level 5.266,13, yang menunjukkan adanya koreksi cukup dalam sejak awal tahun. Di tengah ketidakpastian ini, karakteristik saham syariah yang lebih "aman" dari jeratan utang dan ketergantungan pada sektor perbankan konvensional menjadikannya alternatif menarik bagi investor yang ingin menjaga stabilitas portofolio mereka.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar