Rekor Emas Antam Nyaris Rp2,6 Juta: Investor Galau, Ini Strategi Jitu Cuan Maksimal atau Terjebak Koreksi Tajam? Pakar Bongkar Rahasianya!

Rekor Emas Antam Nyaris Rp2,6 Juta: Investor Galau, Ini Strategi Jitu Cuan Maksimal atau Terjebak Koreksi Tajam? Pakar Bongkar Rahasianya!

55 NEWS – Pasar komoditas kembali bergejolak dengan harga emas batangan Antam yang melesat mencetak rekor tertinggi baru. Logam mulia ini kini diperdagangkan pada level Rp2.590.000 per gram, hanya selangkah lagi menyentuh ambang psikologis Rp2,6 juta. Kenaikan signifikan sebesar Rp29.000 ini, yang terjadi menjelang penutupan tahun 2025, memicu pertanyaan krusial di benak para investor: apakah ini saatnya untuk memborong, atau justru melepas aset emas demi meraup keuntungan?

COLLABMEDIANET

Fenomena lonjakan harga emas yang mendekati puncaknya ini tentu saja menciptakan euforia sekaligus dilema. Di satu sisi, investor yang telah lama memegang emas mungkin merasa di atas angin, sementara di sisi lain, calon pembeli dihadapkan pada harga yang terlampau tinggi, memunculkan kekhawatiran akan koreksi di masa mendatang.

Rekor Emas Antam Nyaris Rp2,6 Juta: Investor Galau, Ini Strategi Jitu Cuan Maksimal atau Terjebak Koreksi Tajam? Pakar Bongkar Rahasianya!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Menanggapi fenomena ini, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik, Achmad Nur Hidayat, memberikan pandangannya yang mencerahkan. Ia menegaskan bahwa keputusan investasi emas, baik untuk membeli maupun menjual, tidak seharusnya didikte oleh gelombang euforia akibat pencapaian rekor harga semata. Menurut Achmad, fondasi utama yang wajib dipertimbangkan investor adalah tujuan investasi yang jelas, rentang waktu investasi (horizon waktu), serta tingkat toleransi terhadap risiko yang dimiliki.

Bagi investor yang berorientasi pada perlindungan nilai jangka panjang, misalnya untuk mengamankan daya beli tabungan dari ancaman inflasi atau ketidakpastian ekonomi global, Achmad menekankan bahwa rekor harga bukanlah sinyal otomatis untuk menghentikan pembelian, pun bukan pula dorongan untuk agresif mengejar harga. "Jika tujuan Anda adalah proteksi nilai aset dalam jangka panjang, rekor harga saat ini tidak serta-merta menjadi alasan untuk berhenti mengakumulasi, atau sebaliknya, terburu-buru mengejar harga," ujarnya kepada 55tv.co.id. Ia menganjurkan pendekatan pembelian secara bertahap (dollar-cost averaging) dengan alokasi porsi yang proporsional dalam portofolio aset keseluruhan, disertai kesiapan mental untuk menghadapi volatilitas harga. Strategi ini, imbuhnya, jauh lebih rasional ketimbang mencoba menebak atau bertaruh pada satu titik harga puncak.

Sebaliknya, untuk para spekulan atau investor dengan horizon waktu jangka pendek, Achmad Nur Hidayat memberikan peringatan keras. Ia menggarisbawahi bahwa level harga rekor justru merupakan zona paling berisiko tinggi. Sentimen pasar, menurutnya, memiliki kecenderungan untuk berbalik arah dengan sangat cepat, dipicu oleh dinamika perubahan kondisi geopolitik global atau pergeseran ekspektasi terkait kebijakan suku bunga bank sentral. "Pada level harga puncak seperti ini, sentimen pasar sangatlah rapuh dan mudah berubah. Sekecil apa pun kabar positif mengenai meredanya ketegangan geopolitik, atau sinyal perubahan arah kebijakan suku bunga, dapat dengan cepat memicu koreksi harga yang tajam," jelas Achmad.

Dengan demikian, keputusan untuk berinvestasi emas di tengah rekor harga saat ini memerlukan analisis yang cermat dan strategi yang terencana, bukan sekadar mengikuti arus euforia pasar.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar