55tv.co.id – Drama pasar uang kembali memanas setelah nilai tukar rupiah terpuruk menembus level Rp18.009 per dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Senin 27 Juli 2026. Pelemahan signifikan sekitar 0,26 persen ini terjadi menyusul kabar mengejutkan pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Related Post
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, gonjang-ganjing di pasar tak lepas dari kombinasi sentimen eksternal dan internal. Dari kancah global, ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran sempat mereda setelah Amerika Serikat menghentikan kampanye pengeboman selama 13 malam berturut-turut. Langkah ini disebut-sebut sebagai upaya membuka ruang diplomasi lebih lanjut.

Respons positif pun datang dari Iran yang menyatakan akan menangguhkan serangan balasan selama jeda AS berlaku. Ibrahim mencatat, meskipun kedua belah pihak tetap siaga untuk melanjutkan aksi militer, sinyal ini memberikan harapan baru. Investor juga mendapat angin segar dari laporan bahwa Tiongkok tengah berupaya menghidupkan kembali perundingan damai yang sempat mandek antara AS dan Iran, memicu optimisme bahwa konflik dapat kembali ke meja negosiasi.
Namun, jeda serangan ini masih diselimuti ketidakpastian. Bank sentral memperingatkan bahwa penjelasan dari Washington terkait penghentian tersebut masih minim, sehingga terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa konflik telah memasuki fase yang lebih stabil. Kekhawatiran pasokan global pun tetap membayangi pasar. Meskipun permusuhan mereda, gangguan pengiriman di jalur vital seperti Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb masih berlanjut, terutama setelah serangan Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi.
Di sisi lain, potensi penguatan rupiah juga terhambat oleh narasi hawkish dari bank sentral Amerika Serikat The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini memproyeksikan probabilitas kenaikan suku bunga pada September mencapai 78 persen, sementara pada pertemuan 28-29 Juli, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan.
Dari dalam negeri, pasar bereaksi negatif terhadap keputusan Perry Warjiyo untuk melepaskan jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia. Surat pengunduran diri telah diajukan kepada Presiden Prabowo Subianto. Ibrahim Assuaibi menjelaskan, mundurnya Perry ini bertepatan dengan gejolak rupiah yang terus melemah akibat memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Situasi ini, menurut Ibrahim, memicu intervensi dari Presiden, pemerintah, dan DPR terhadap independensi Bank Indonesia, yang pada akhirnya mendorong keputusan pengunduran diri Perry Warjiyo.










Tinggalkan komentar