Rupiah Tertekan Akibat Gejolak Energi Dunia

Rupiah Tertekan Akibat Gejolak Energi Dunia

55tv.co.id – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan di penghujung pekan ini. Berdasarkan data perdagangan terakhir pada Jumat (23/10/2026), mata uang Garuda ditutup merosot ke level Rp18.080 per dolar AS. Penurunan ini mencatatkan angka sebesar 20 poin atau setara dengan pelemahan sekitar 0,11 persen dibandingkan posisi sebelumnya.

COLLABMEDIANET

Kondisi pasar keuangan global yang tidak menentu menjadi pemicu utama tekanan terhadap mata uang domestik. Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa sentimen eksternal yang paling dominan berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global meningkat tajam menyusul eskalasi konflik yang melibatkan kelompok Houthi dan Arab Saudi.

Rupiah Tertekan Akibat Gejolak Energi Dunia
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Situasi semakin memanas setelah raksasa minyak dunia, Saudi Aramco, mengeluarkan instruksi darurat untuk mengevakuasi seluruh staf di kantor pusat mereka yang berlokasi di Dhahran. Wilayah tersebut berada di kawasan Teluk yang sangat strategis namun kini berada dalam zona risiko tinggi akibat meningkatnya intensitas pertempuran. Konflik antara kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran dengan koalisi pimpinan Arab Saudi telah mencapai titik kritis, terutama dengan pergerakan pasukan Houthi menuju jalur pelayaran Bab el-Mandeb di Laut Merah. Jalur ini merupakan urat nadi perdagangan energi dunia, sehingga gangguan di wilayah tersebut berdampak langsung pada psikologi pasar global.

Tak hanya di Timur Tengah, gangguan pasokan energi juga dilaporkan terjadi di Libya. Kepala National Oil Corporation mengonfirmasi adanya penutupan katup pada pipa minyak yang menghubungkan ladang minyak Hamada dan Tahara menuju pelabuhan Zawiya. Langkah ini secara otomatis memicu penurunan produksi minyak mentah secara signifikan, yang menambah daftar panjang ketidakpastian suplai energi dunia.

Di sisi lain, dinamika politik global juga diwarnai dengan kabar dari Rusia terkait konflik dengan Ukraina. Rusia menyatakan kesiapannya untuk kembali membuka meja perundingan yang dimediasi oleh Amerika Serikat pada bulan depan. Hal ini menyusul pertemuan strategis antara Presiden Vladimir Putin dengan utusan AS, Steve Witkoff, di St. Petersburg. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, menyatakan harapannya agar dialog perdamaian ini dapat terealisasi pada awal November mendatang, mengingat ini akan menjadi pertemuan diplomatik pertama sejak Februari lalu.

Sementara itu, dari sisi ekonomi Amerika Serikat, data tenaga kerja menunjukkan performa yang cukup kuat. Klaim pengangguran awal AS untuk pekan yang berakhir pada 17 Oktober tercatat hanya sebesar 194 ribu, angka yang lebih rendah dari estimasi pasar sebelumnya sebesar 200 ribu. Angka ini bahkan menjadi level terendah dalam hampir 57 tahun terakhir. Meskipun data inflasi AS sempat melampaui ekspektasi pada pekan sebelumnya, para pelaku pasar saat ini cenderung mengesampingkan kemungkinan adanya kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS pada bulan Oktober mendatang. Kombinasi antara ketidakpastian geopolitik dan data ekonomi AS yang kuat inilah yang akhirnya menekan posisi rupiah di pasar valuta asing.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar