55tv.co.id – Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bergerak cepat merespons bencana banjir lahar dingin yang menerjang kawasan Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Sebagai langkah antisipasi dan penanganan darurat, Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas telah diterjunkan langsung ke lokasi kejadian untuk melakukan pendataan menyeluruh terhadap dampak kerusakan yang ditimbulkan.

Related Post
Bencana ini dipicu oleh curah hujan dengan intensitas sangat tinggi yang mengguyur area puncak hingga lereng Gunung Semeru serta wilayah di sepanjang aliran sungai pada Senin dini hari, 2 November 2026. Berdasarkan catatan teknis dari BBWS Brantas, akumulasi curah hujan tercatat mencapai angka 134,6 mm dalam rentang waktu pengamatan pukul 00.00 hingga 06.30 WIB. Lonjakan volume air ini memicu aliran lahar yang membawa material vulkanik dengan ukuran berkisar antara 25 hingga 65 mm, yang secara signifikan merusak infrastruktur di sekitarnya.

Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa pihaknya telah menginstruksikan seluruh jajaran untuk bersiaga penuh. Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan keselamatan warga serta mempercepat proses pemulihan infrastruktur yang vital bagi kehidupan masyarakat setempat.
"Kementerian PU berkomitmen penuh untuk menangani seluruh dampak bencana ini dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang kami miliki. Prioritas utama kami saat ini adalah keselamatan warga dan pemulihan fasilitas publik yang terdampak," ujar Menteri Dody dalam keterangan resminya pada Selasa, 3 November 2026.
Berdasarkan hasil identifikasi awal yang dilakukan oleh tim di lapangan, banjir lahar tersebut telah menyebabkan kerusakan pada beberapa titik infrastruktur sumber daya air. Salah satu dampak yang paling terlihat adalah tertimbunnya tanggul beton pengendali banjir dan lahar oleh material vulkanik dalam proyek VDRRSL S4 KD 3. Selain itu, tim juga menemukan adanya pengikisan atau scouring pada tiga bangunan sabo dam serta tanggul sungai yang terletak di bawah jembatan gantung.
Kondisi ini menuntut penanganan cepat, terutama dalam pembersihan material vulkanik yang menyumbat aliran sungai agar tidak memicu banjir susulan. Kementerian PU juga telah menyiapkan alat-alat berat untuk dikerahkan ke lokasi guna mempercepat proses pembersihan dan perbaikan infrastruktur yang rusak.
Pemerintah mengimbau masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai untuk tetap waspada terhadap potensi banjir lahar susulan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi kembali mengguyur kawasan puncak Gunung Semeru. Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah terus diperkuat guna memastikan penanganan bencana berjalan efektif dan efisien.










Tinggalkan komentar