55tv.co.id – Industri manufaktur Indonesia tengah bersiap melakukan lompatan besar di kancah internasional melalui inovasi produk ramah lingkungan. PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum secara resmi mengumumkan langkah strategis mereka untuk memperkuat posisi di pasar global dengan mengembangkan produk aluminium rendah karbon. Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya permintaan dunia terhadap material yang memiliki jejak karbon minimal.

Related Post
Melalui inisiatif Sertifikasi Low Carbon Aluminium atau yang lebih dikenal sebagai Green Aluminium, Inalum berupaya mengoptimalkan keunggulan kompetitif yang dimiliki perusahaan. Keunggulan utama tersebut terletak pada penggunaan energi terbarukan, yakni tenaga air (hydroelectric), dalam seluruh proses produksinya. Penggunaan energi bersih ini menjadi kunci utama bagi perusahaan untuk mendukung agenda global dalam penurunan emisi karbon secara signifikan.

Direktur Pengembangan Usaha dan Komersial Inalum, Arif Haendra, menjelaskan bahwa langkah ini bukan sekadar upaya menjaga kelestarian lingkungan, melainkan sebuah strategi bisnis yang sangat krusial. Menurutnya, sertifikasi Green Aluminium akan menjadi tiket emas bagi produk aluminium Indonesia untuk menembus pasar-pasar ketat di mancanegara yang kini semakin selektif terhadap aspek keberlanjutan.
"Pasar global saat ini semakin memberikan perhatian besar terhadap produk aluminium yang memiliki jejak karbon rendah. Dengan adanya sertifikasi ini, kami ingin memperkuat nilai tambah produk kami serta membuka akses pasar yang jauh lebih luas," ujar Arif dalam keterangan resminya di Jakarta.
Arif menambahkan bahwa Inalum memiliki modal kuat yang tidak dimiliki oleh banyak produsen lain di dunia. Hal ini dikarenakan proses produksi aluminium di Indonesia sudah ditopang oleh energi berbasis tenaga air yang bersifat terbarukan. Dengan memanfaatkan potensi energi bersih ini, Inalum ingin menciptakan posisi tawar yang lebih kuat di hadapan pembeli internasional.
"Kami ingin menerjemahkan keunggulan energi terbarukan ini menjadi daya saing yang nyata. Tujuannya agar produk aluminium Indonesia semakin kompetitif dan mampu bersaing secara sehat di pasar internasional yang sangat dinamis," lanjutnya.
Langkah besar ini secara resmi diperkenalkan dalam ajang bergengsi Fastmarkets International Aluminium Conference 2026 yang berlangsung pada pertengahan September 2026. Kehadiran Inalum dalam konferensi internasional tersebut menegaskan komitmen serius pemerintah dan BUMN dalam mendukung transisi energi hijau di sektor industri berat.
Dengan fokus pada produk rendah karbon, Indonesia tidak hanya sekadar menjadi eksportir komoditas, tetapi juga pemain kunci dalam rantai pasok industri hijau dunia. Langkah Inalum ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi ekonomi nasional sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang berkomitmen penuh pada target net zero emission.








Tinggalkan komentar