55 NEWS – Sebuah terobosan signifikan dalam sektor energi terbarukan, Bobibos, bahan bakar nabati berbasis jerami hasil karya anak bangsa Indonesia, kini telah memasuki fase produksi massal di Timor Leste. Perkembangan strategis ini tidak luput dari perhatian Presiden Prabowo Subianto, yang disebut telah mengetahui inovasi penting ini. Pengembang utama Bobibos, Mulyadi, bahkan mengisyaratkan kesiapan untuk membawa kembali teknologi ini ke Indonesia jika negara memintanya.

Related Post
Mulyadi, yang juga merupakan anggota DPR RI sekaligus kader Partai Gerindra, menjelaskan bahwa pelaporan mengenai Bobibos kepada Presiden Prabowo telah dilakukan melalui saluran komunikasi yang berjenjang dan sesuai etika organisasi. "Dalam konteks partai, saya sudah melapor ke pembinaan partai, Dewan Pembina, dan unsur pimpinan lainnya. Dalam konteks legislasi, kami juga sudah menyampaikan ke pimpinan DPR, ketua dan wakil ketua komisi terkait, hingga kementerian teknis. Dengan begitu, saya yakin Pak Presiden mengetahui perkembangan ini," ujar Mulyadi di Bumi Sultan Jonggol, Jawa Barat, pada Jumat (26/12/2025). Ia menekankan pentingnya prosedur ini untuk menghindari kesan melampaui kewenangan, sekaligus menunjukkan transparansi dalam komunikasi politik dan legislasi.

Timor Leste menjadi negara pertama yang secara konkret mengimplementasikan penggunaan Bobibos. Setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang krusial, Bobibos bersama mitra lokal di Timor Leste segera menyusun perjanjian kerja sama lanjutan. Perjanjian ini mencakup detail rencana aksi, kerangka waktu implementasi, penanggung jawab proyek, hingga estimasi kebutuhan produksi yang akurat.
Dukungan dari Pemerintah Timor Leste terbilang masif, meliputi penyediaan fasilitas pabrik serta alokasi lahan bahan baku seluas 25.000 hektare. Untuk tahap awal, sekitar 5.700 hektare lahan telah disiapkan untuk menopang produksi. Kapasitas produksi masih dalam tahap finalisasi, disesuaikan dengan volume permintaan yang diinginkan, ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan, dan progres pembangunan mesin produksi di lokasi. "Target kami paling lambat Februari 2026 sudah produksi, tapi kami upayakan Januari 2026 sudah mulai. Produksi perdana akan diluncurkan langsung oleh pemerintah Timor-Leste," tambah Mulyadi, dengan nada optimis mengenai jadwal peluncuran.
Keberhasilan Bobibos di Timor Leste ini menjadi bukti nyata potensi inovasi energi terbarukan Indonesia di kancah internasional. Ini juga membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mengadopsi teknologi serupa, terutama mengingat melimpahnya bahan baku jerami di dalam negeri yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal. Sinyal dari Mulyadi untuk membawa kembali Bobibos ke Tanah Air jika ada permintaan dari negara menggarisbawahi pentingnya dukungan kebijakan dan investasi untuk pengembangan energi hijau nasional, demi mencapai kemandirian energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar