55 NEWS – Ibu Kota Jakarta bersiap menyambut gelombang revitalisasi perumahan yang masif. Sebanyak 10.000 unit rumah warga di berbagai penjuru Jakarta dijadwalkan akan menjalani program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau yang lebih dikenal sebagai ‘bedah rumah’ mulai bulan ini. Angka ini melonjak tajam, hampir 63 kali lipat, dari realisasi tahun sebelumnya yang hanya mencakup 158 unit, menandakan komitmen serius pemerintah dalam mengentaskan isu hunian tidak layak huni dan sekaligus mendorong perputaran ekonomi lokal.

Related Post
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, yang akrab disapa Ara, menegaskan bahwa progres program ini sudah menunjukkan momentum signifikan. Hingga pertengahan Juni 2026, lebih dari 5.659 unit rumah di Jakarta telah memulai proses pengerjaan di bawah skema BSPS. Distribusi pekerjaan ini tersebar merata di enam wilayah administratif, meliputi Kepulauan Seribu dengan 300 unit, Jakarta Barat 1.350 unit, Jakarta Selatan 1.000 unit, Jakarta Utara 1.009 unit, Jakarta Pusat 1.000 unit, dan Jakarta Timur 1.000 unit.

"BSPS ini merupakan inisiatif strategis Presiden Prabowo untuk memperbaiki kualitas hunian masyarakat yang belum memenuhi standar kelayakan di seluruh Indonesia," ujar Maruarar pada Minggu (21/6/2026), seraya menambahkan, "Khusus di DKI Jakarta, alokasinya meningkat secara drastis, dari 158 unit pada tahun lalu menjadi 10.000 unit pada tahun ini, menunjukkan prioritas tinggi bagi Ibu Kota." Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi dan skala program yang tidak hanya berdimensi sosial, tetapi juga ekonomi.
Sebagai simbol dimulainya proyek ambisius ini, Maruarar Sirait secara langsung meninjau kondisi rumah dua calon penerima bantuan, yakni kakak beradik Ahyani (71) dan Ariasih (67). Ahyani, yang berbagi atap dengan satu anak dan empat cucu, serta Ariasih, yang tinggal bersama empat anaknya termasuk seorang penyandang disabilitas, menjadi representasi nyata urgensi program ini. Kondisi hunian mereka sangat memprihatinkan: struktur kolom dan ring balok yang rapuh, kerusakan parah pada rangka atap, minimnya pencahayaan dan sirkulasi udara yang memadai, serta material bangunan yang sudah jauh dari kata layak. Bahkan, salah satu rumah masih beralaskan tanah, dinding kayu yang lapuk termakan usia, dan penggunaan penutup atap berbahan asbes yang berpotensi membahayakan kesehatan penghuni, sebagaimana dilaporkan 55tv.co.id.
Program BSPS ini diharapkan tidak hanya sekadar merenovasi fisik bangunan, tetapi juga mengangkat harkat dan martabat penghuninya, serta memberikan dampak domino positif bagi perekonomian mikro di lingkungan sekitar melalui penyerapan tenaga kerja lokal dan pembelian material bangunan. Ini adalah investasi jangka panjang pemerintah dalam kesejahteraan rakyat dan stabilitas ekonomi wilayah.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar