TERKUAK! Inflasi Januari 2026 Melonjak 3,55 Persen, Ekonom Ungkap Penyebab Sebenarnya yang Bikin Lega: Bukan Kenaikan Harga!

TERKUAK! Inflasi Januari 2026 Melonjak 3,55 Persen, Ekonom Ungkap Penyebab Sebenarnya yang Bikin Lega: Bukan Kenaikan Harga!

55 NEWS – Laporan inflasi tahunan Indonesia untuk Januari 2026 yang mencapai 3,55 persen sempat memicu kekhawatiran di kalangan pengamat ekonomi dan masyarakat. Angka ini, yang sedikit melampaui batas atas target Bank Indonesia (BI) di rentang 1,5-3,5 persen, sekilas mengindikasikan tekanan harga yang signifikan. Namun, seorang ekonom terkemuka dari Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal Hastiadi, menegaskan bahwa lonjakan ini tidak perlu dicemaskan, melainkan merupakan sebuah fenomena statistik yang dipicu oleh "efek basis rendah" (low-base effect).

COLLABMEDIANET

Menurut Fithra, kenaikan persentase inflasi ini bukan cerminan dari gejolak atau lonjakan harga barang dan jasa secara fundamental di pasar. "Kenaikan ini sebenarnya dipicu oleh low-base effect, bukan karena dinamika harga yang terjadi saat ini. Oleh karenanya, fenomena ini sejatinya tak perlu dikhawatirkan dan tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi," jelas Fithra dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa (3/2/2026), seperti dilansir 55tv.co.id.

TERKUAK! Inflasi Januari 2026 Melonjak 3,55 Persen, Ekonom Ungkap Penyebab Sebenarnya yang Bikin Lega: Bukan Kenaikan Harga!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Pakar ekonomi tersebut merinci bahwa efek basis rendah ini berakar pada kebijakan pemerintah yang diterapkan pada awal tahun sebelumnya. Pada periode Januari hingga Februari 2025, pemerintah memberlakukan diskon tarif listrik sebesar 50 persen bagi golongan pelanggan tertentu. Kebijakan stimulus ini secara langsung menekan komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices), yang pada gilirannya menurunkan Indeks Harga Konsumen (IHK) secara keseluruhan.

Sebagai bukti konkret, data menunjukkan bahwa IHK pada Januari 2025 tercatat di level 105,99 poin, mengalami penurunan signifikan dari 106,8 poin pada Desember 2024. Penurunan ini bahkan menyebabkan deflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,76 persen pada awal tahun 2025, sebuah anomali yang dipengaruhi kuat oleh diskon listrik tersebut.

Memasuki awal tahun 2026, situasi berubah. Pemerintah tidak lagi melanjutkan kebijakan diskon tarif listrik yang berlaku di tahun sebelumnya. Dengan normalisasi tarif tersebut, IHK pada Januari 2026 kembali meningkat ke level 109,75 poin. Perbandingan antara IHK Januari 2026 yang normal dengan IHK Januari 2025 yang "terdistorsi" oleh diskon, secara matematis menghasilkan angka inflasi tahunan yang tampak tinggi.

"Ini menegaskan bahwa inflasi Januari 2026 lebih disebabkan oleh penyesuaian harga yang diatur pemerintah, bukan oleh tekanan inflasi riil akibat permintaan atau biaya produksi yang melonjak," pungkas Fithra. Dengan demikian, masyarakat dan pelaku ekonomi diimbau untuk tidak panik menghadapi data inflasi ini, karena indikator fundamental ekonomi Indonesia masih tetap solid.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar