55 NEWS – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, secara tegas menguraikan bahwa kebijakan relaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk sektor pertambangan batu bara adalah langkah strategis yang dirancang untuk menjaga stabilitas dan kualitas harga jual komoditas tersebut di pasar internasional. Pernyataan ini disampaikan Bahlil sebagai respons terhadap sorotan tajam dari Anggota Komisi VII DPR RI yang menyoroti kesulitan para pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) dalam memperoleh persetujuan RKAB.

Related Post
Dalam rapat kerja yang berlangsung di Gedung DPR RI pada Rabu (17/6/2026), Bahlil menegaskan komitmennya terhadap transparansi dan integritas dalam proses persetujuan RKAB. "Aparat penegak hukum boleh memeriksa, saya tidak pernah bermain-main soal RKAB. Saya sampaikan dalam forum ini, jadi kita tidak bisa digertak-gertak," ujarnya, menunjukkan ketegasan dalam menghadapi tudingan.

Bahlil kemudian menjelaskan latar belakang perubahan kebijakan yang krusial ini. Sebelumnya, berdasarkan kesepakatan antara Parlemen dan Pemerintah Pusat, RKAB diberikan untuk periode tiga tahun kepada para pelaku usaha. Namun, menurut Bahlil, skema ini justru melemahkan posisi tawar Indonesia di kancah global, yang pada akhirnya mengakibatkan penurunan harga batu bara. Ironisnya, meskipun Indonesia menyuplai hampir 40 persen dari total kebutuhan batu bara dunia yang ditaksir mencapai 1,3 miliar ton per tahun, negara ini belum mampu membentuk harga jualnya sendiri, sebuah anomali ekonomi yang ingin diatasi.
Oleh karena itu, Ketua Umum Partai Golkar ini mengungkapkan bahwa perubahan durasi pemberian RKAB dari tiga tahun menjadi satu tahun, disertai dengan pemangkasan target produksi dari 790 juta ton pada tahun 2025 menjadi sekitar 600 juta ton, adalah strategi krusial. Langkah-langkah ini diambil semata-mata untuk menjaga agar harga batu bara dunia tetap berada pada level yang menguntungkan, memastikan keberlanjutan ekonomi sektor pertambangan nasional, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci di pasar komoditas global.
Editor: Akbar soaks








Tinggalkan komentar