55 NEWS – PT Pertamina Patra Niaga, sebagai tulang punggung penyedia energi nasional, kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung kelancaran salah satu agenda terbesar bangsa: ibadah haji. Untuk periode Haji 2026, perusahaan pelat merah ini telah menyiapkan pasokan avtur dalam volume yang sangat signifikan, mencapai lebih dari 80 ribu kiloliter (KL). Angka masif ini bukan sekadar data operasional, melainkan representasi dari strategi korporasi yang matang untuk menjamin mobilitas udara jutaan jemaah haji Indonesia, sekaligus menyoroti peran krusial Pertamina dalam menjaga stabilitas dan keandalan layanan energi yang terintegrasi serta berkelanjutan di kancah nasional.

Related Post
Pelaksanaan penerbangan haji 2026 akan terbagi dalam dua fase utama. Fase pertama dijadwalkan berlangsung dari 22 April hingga 21 Mei 2026, sementara fase kedua akan dimulai pada 1 Juni hingga 30 Juni 2026. Dalam kedua periode puncak ini, Pertamina Patra Niaga telah memastikan kesiapan operasional yang optimal serta keandalan pasokan avtur di seluruh titik layanan strategis. Kesiapan ini mencakup 14 lokasi embarkasi haji di seluruh penjuru Indonesia, meliputi Bandara Sultan Iskandar Muda, Minangkabau, Hang Nadim, Kualanamu, Sultan Mahmud Badaruddin II, Soekarno-Hatta, Kertajati, Adi Soemarmo, Juanda, Lombok International Airport (BIL), Sepinggan, Syamsudin Noor, Hasanuddin, serta penambahan signifikan Yogyakarta International Airport (YIA) sebagai embarkasi baru pada tahun 2026. Ekspansi titik layanan ini menunjukkan adaptasi Pertamina terhadap dinamika kebutuhan dan peningkatan kuota jemaah.

Roberth MV Dumatubun, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, menegaskan bahwa kesiapan logistik dan operasional yang masif ini didukung oleh sistem rantai pasok yang terintegrasi secara komprehensif dari hulu ke hilir. "Kami memastikan keandalan suplai avtur di setiap titik layanan penerbangan haji melalui integrasi rantai pasok yang solid, mulai dari fasilitas kilang, terminal bahan bakar, terminal aviasi, hingga layanan pengisian langsung ke pesawat (into-plane)," ungkap Roberth, seperti dikutip dari 55tv.co.id pada Kamis (23/4/2026). Ia menambahkan, langkah strategis ini esensial untuk menjamin operasional penerbangan haji berjalan dengan aman, tepat waktu, dan sesuai standar layanan internasional, sekaligus meminimalisir potensi kendala logistik yang dapat berdampak pada jadwal keberangkatan jemaah. Komitmen ini tidak hanya mendukung kelancaran ibadah, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas ekonomi regional melalui perputaran aktivitas di bandara-bandara embarkasi.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar