55tv.co.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia baru-baru ini menguak fakta mengejutkan di balik preferensi investor manufaktur yang lebih memilih Vietnam ketimbang Indonesia. Perbedaan mencolok pada harga lahan industri menjadi biang keladi utama yang membuat Tanah Air kehilangan daya tarik di mata para pemodal.

Related Post
Bahlil membeberkan bahwa di kawasan industri Vietnam, harga tanah hanya berkisar Rp600 ribu per meter persegi. Angka ini jauh di bawah harga tanah di Indonesia yang bisa mencapai Rp2 juta per meter persegi. Selisih harga yang signifikan ini jelas membuat perusahaan berpikir ulang saat menentukan lokasi investasi dan menimbang efisiensi biaya produksi.

Fenomena ini semakin kentara saat terjadi perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok pada periode 2016-2017. Kala itu, puluhan perusahaan raksasa memutuskan hengkang dari Tiongkok untuk mencari basis produksi baru di kawasan Asia Tenggara yang lebih stabil dan efisien.
Ironisnya, dari 32 perusahaan yang tercatat pindah tersebut, tak satupun memilih Indonesia sebagai tujuan relokasi. Mayoritas justru mengalihkan operasional mereka ke Vietnam dan beberapa negara tetangga lainnya. Para investor mempertimbangkan efisiensi biaya produksi secara menyeluruh, di mana biaya pembebasan lahan menjadi faktor penentu krusial.
Pernyataan Bahlil ini disampaikan dalam acara peluncuran dan bedah buku "10 Karya Nyata untuk Negeri Setengah Abad Bahlil Lahadalia" di Jakarta. Ungkapan ini menjadi sorotan penting bagi pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan terkait harga lahan demi menarik lebih banyak investasi manufaktur ke Tanah Air dan bersaing dengan negara-negara tetangga.










Tinggalkan komentar