55tv.co.id – Pergerakan likuiditas di pasar keuangan Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik pada penghujung tahun 2026. Bank Indonesia (BI) baru saja merilis data terbaru mengenai posisi uang primer atau Monetary Aggregates Zero (M0) Adjusted yang mencatatkan angka fantastis. Berdasarkan laporan resmi otoritas moneter, jumlah uang primer di Indonesia telah menyentuh angka Rp2.265,4 triliun pada periode Oktober 2026.

Related Post
Meskipun angka tersebut menunjukkan volume yang sangat besar, jika ditinjau dari sisi pertumbuhan tahunan (year-on-year/yoy), terdapat tren perlambatan yang perlu dicermati oleh para pelaku pasar. Bank Indonesia mencatat bahwa pertumbuhan uang primer tersebut berada di level 7 persen secara tahunan. Angka ini menunjukkan penurunan laju pertumbuhan jika dibandingkan dengan pencapaian pada bulan sebelumnya, yakni September 2026, yang sempat menyentuh angka 9,3 persen yoy.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa fluktuasi pertumbuhan ini tidak lepas dari pergerakan komponen utama penyusun uang primer. Menurutnya, perlambatan ini dipicu oleh kombinasi dinamika uang kartal yang beredar di masyarakat serta posisi giro bank umum yang ditempatkan di Bank Indonesia.
"Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan uang kartal yang diedarkan sebesar 11,5 persen secara tahunan, serta pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted yang berada di angka 2,4 persen secara tahunan," ungkap Ramdan dalam keterangan tertulisnya pada Jumat (6/11/2026).
Jika dibedah lebih mendalam, uang kartal yang diedarkan ke masyarakat justru menunjukkan tren penguatan yang cukup signifikan dengan kenaikan sebesar 11,5 persen yoy. Hal ini mengindikasikan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai masih cukup tinggi di tengah aktivitas ekonomi yang berjalan. Namun, laju pertumbuhan total uang primer tertahan oleh pertumbuhan giro bank umum di BI yang relatif lebih moderat, yakni hanya tumbuh 2,4 persen yoy.
Perlu dipahami bahwa dalam penghitungan M0 Adjusted ini, Bank Indonesia melakukan penyesuaian khusus. Langkah ini diambil untuk memperhitungkan dampak dari pemberian insentif likuiditas yang dilakukan oleh bank sentral. Penyesuaian tersebut sangat krusial guna mengisolasi pengaruh penurunan saldo giro bank di BI yang mungkin terjadi akibat adanya kebijakan insentif likuiditas tersebut. Dengan demikian, data yang dihasilkan memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi likuiditas riil di sistem perbankan.
Para pengamat ekonomi menilai bahwa meskipun terjadi perlambatan pertumbuhan dibandingkan bulan sebelumnya, posisi uang primer yang tetap berada di angka triliunan rupiah menunjukkan bahwa stabilitas moneter masih terjaga. Kendati demikian, pelaku pasar tetap perlu memantau bagaimana kebijakan insentif likuiditas dari Bank Indonesia ke depannya akan memengaruhi pergerakan uang kartal dan saldo giro perbankan di masa mendatang.










Tinggalkan komentar