55tv.co.id – Pemerintah Indonesia kini tengah memperkuat benteng pertahanan fiskal dan stabilitas sektor keuangan nasional. Langkah strategis ini diambil guna memastikan ekonomi domestik tetap tangguh dalam menghadapi eskalasi guncangan global yang diprediksi akan semakin tidak menentu.

Related Post
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengungkapkan bahwa lanskap risiko global saat ini telah berubah menjadi sangat kompleks dan saling terhubung satu sama lain. Menurutnya, satu gangguan di satu sektor dapat memicu efek domino yang merambat ke berbagai lini ekonomi lainnya.

Salah satu contoh nyata yang paling mengkhawatirkan adalah konflik geopolitik di berbagai belahan dunia. Juda menjelaskan bahwa ketegangan politik internasional berpotensi besar mengganggu rantai pasokan minyak dunia. Jika pasokan minyak terganggu, harga energi global akan melonjak, yang kemudian memicu kenaikan inflasi secara masif.
"Efeknya tidak berhenti di situ. Inflasi yang tinggi akan memengaruhi kebijakan suku bunga global, yang kemudian berdampak langsung pada arus modal keluar, fluktuasi nilai tukar, hingga membengkaknya biaya pembiayaan negara," ujar Juda dalam keterangannya pada Senin (28/9/2026).
Menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian ini, pemerintah menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus berfungsi secara optimal sebagai peredam guncangan atau shock absorber. APBN diharapkan mampu melindungi masyarakat dari dampak buruk krisis, namun di saat yang sama tetap harus menjaga disiplin anggaran agar keberlanjutan keuangan negara tetap terjaga.
Juda menekankan bahwa strategi fiskal ke depan harus bersifat adaptif dan penuh kehati-hatian (prudent), namun tetap berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. "Kita harus mampu melindungi perekonomian saat ini, tanpa mengorbankan stabilitas fiskal untuk masa depan," tambahnya.
Selain fokus pada ketahanan fiskal, Juda juga menyoroti pentingnya stabilitas sektor keuangan sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menilai sistem keuangan tidak boleh hanya sekadar stabil dan efisien, tetapi juga harus mengalami pendalaman agar lebih inklusif.
Pendalaman sektor keuangan ini bertujuan agar aliran pembiayaan dapat menjangkau sektor-sektor produktif secara lebih luas, mulai dari pemberdayaan UMKM, dukungan terhadap inovasi, hingga penciptaan lapangan kerja baru yang masif.
Di sisi lain, Wamenkeu juga memberikan catatan khusus terkait pesatnya transformasi digital dan adopsi teknologi kecerdasan artifisial (AI) di berbagai sektor. Meski teknologi menawarkan efisiensi yang luar biasa, Juda mengingatkan agar pemanfaatan teknologi tersebut harus dibarengi dengan manajemen risiko yang ketat serta tata kelola yang kuat guna menghindari risiko-risiko baru di era digital.










Tinggalkan komentar