55tv.co.id – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan kini telah memasuki fase yang mengkhawatirkan. Dampaknya tidak lagi sekadar polusi udara yang menyesakkan napas, namun telah merambah ke sektor transportasi udara yang menyebabkan kekacauan jadwal penerbangan secara masif. Kabut asap tebal yang menyelimuti sejumlah bandara membuat jarak pandang pilot menurun drastis, sehingga keselamatan penerbangan berada dalam ancaman serius.

Related Post
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melaporkan bahwa fenomena asap ini telah melumpuhkan ratusan jadwal penerbangan di berbagai wilayah Kalimantan. Berdasarkan data terbaru, tercatat sebanyak 409 penerbangan mengalami gangguan akibat kondisi cuaca ekstrem yang disebabkan oleh asap karhutla tersebut. Situasi ini menunjukkan peningkatan gangguan yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F Laisa, menegaskan bahwa aspek keselamatan adalah harga mati dalam operasional penerbangan. Menurutnya, ketika kabut asap membuat jarak pandang di sekitar landasan pacu berada di bawah standar minimum operasional, maka otoritas bandara tidak memiliki pilihan lain selain mengambil tindakan tegas.
"Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama kami. Jika jarak pandang sudah tidak memenuhi batas minimum, maka penerbangan terpaksa mengalami keterlambatan, penundaan, pembatalan, hingga pengalihan rute. Semua keputusan ini diambil berdasarkan evaluasi ketat di lapangan demi menjamin keselamatan penumpang dan kru pesawat," ungkap Lukman dalam pernyataan resminya.
Data pemantauan Kemenhub untuk periode 14 hingga 20 September 2026 menunjukkan angka yang mencengangkan di wilayah kerja Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan. Dari total 409 penerbangan yang terdampak, rinciannya meliputi 141 penerbangan yang mengalami keterlambatan (delay), 254 penerbangan yang terpaksa dibatalkan atau ditunda, serta 14 penerbangan yang harus dialihkan (divert) ke bandara lain.
Lonjakan gangguan ini sangat kontras jika dibandingkan dengan periode 7-13 September 2026, di mana jumlah penerbangan yang terdampak hanya berkisar di angka 159 jadwal. Hal ini mengindikasikan bahwa intensitas kebakaran hutan di Kalimantan semakin memburuk dalam sepekan terakhir.
Secara geografis, Kalimantan Tengah menjadi wilayah yang paling menderita akibat dampak karhutla ini. Tercatat ada 201 penerbangan yang terganggu di provinsi tersebut, dengan rincian 79 delay, 121 pembatalan atau penundaan, dan satu penerbangan yang dialihkan. Menyusul di posisi berikutnya, Kalimantan Timur mencatat 138 penerbangan terdampak, yang terdiri dari 48 delay, 77 pembatalan, dan 13 pengalihan rute. Sementara itu, Kalimantan Utara juga tidak luput dari dampak dengan 70 penerbangan yang mengalami gangguan.
Kondisi di lapangan dilaporkan sangat mencekam bagi para pelaku perjalanan udara. Di beberapa bandara utama seperti Bandara Tjilik Riwut, Bandara Iskandar, Bandara Haji Muhammad Sidik, hingga Bandara APT Pranoto, jarak pandang dilaporkan merosot tajam hingga menyentuh angka 50 meter saja. Kondisi ini membuat operasional bandara seolah tertutup kabut tebal yang sangat berbahaya bagi navigasi pesawat.










Tinggalkan komentar