55tv.co.id – Pasar modal Indonesia menunjukkan tren negatif pada pembukaan perdagangan hari ini, Kamis (24/9/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau langsung tergelincir ke zona merah saat bel pembukaan berbunyi. Berdasarkan data transaksi, indeks mengalami penurunan sebesar 0,16 persen dan sempat menyentuh level 6.364.

Related Post
Kondisi pelemahan ini tidak berhenti di situ. Hanya dalam hitungan menit setelah perdagangan dimulai, tekanan jual semakin kuat yang menyebabkan IHSG merosot lebih dalam hingga 0,33 persen ke level 6.353. Dinamika pasar menunjukkan dominasi sentimen negatif, di mana jumlah saham yang mengalami penurunan jauh melampaui saham yang bergerak menguat. Tercatat sebanyak 255 saham terpantau melemah, sementara hanya 200 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Adapun 508 saham lainnya terpantau bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan harga yang signifikan.

Aktivitas transaksi di awal sesi ini menunjukkan volume yang cukup dinamis dengan nilai transaksi menyentuh angka Rp371 miliar. Adapun volume perdagangan saham yang berpindah tangan mencapai 911 juta lembar saham.
Koreksi ini juga merembet ke berbagai indeks saham lainnya. Indeks LQ45, yang merupakan kumpulan saham-saham dengan likuiditas tinggi, mengalami penurunan sebesar 0,50 persen ke level 630. Senada dengan itu, Indeks JII (Jakarta Islamic Index) juga terkoreksi cukup tajam sebesar 0,69 persen ke level 378. Indeks lainnya seperti MNC36 dan IDX30 turut menunjukkan tren pelemahan masing-masing sebesar 0,54 persen dan 0,42 persen.
Jika menilik pergerakan sektor, mayoritas sektor saham di bursa efek Indonesia tampak sedang "berdarah". Sektor-sektor utama seperti energi, bahan baku, infrastruktur, properti, industri, teknologi, hingga sektor keuangan dan kesehatan semuanya berada di zona merah. Kondisi ini mengindikasikan adanya aksi ambil untung atau tekanan jual yang merata di berbagai lini industri. Meski demikian, masih ada secercah harapan di sektor konsumer non-siklikal, konsumer siklikal, serta sektor transportasi yang justru mampu mencatatkan penguatan di tengah lesunya pasar.
Di tengah badai penurunan tersebut, beberapa emiten justru berhasil mencuri perhatian sebagai penggerak pasar atau top gainers. Nama-nama seperti PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), PT Fortune Indonesia Tbk (FORU), dan PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk (BIPP) menjadi saham yang paling banyak diburu investor hingga berhasil naik ke permukaan.
Sebaliknya, para investor perlu mewaspadai sejumlah saham yang mengalami penurunan paling dalam atau top losers. Beberapa di antaranya adalah PT Wahana Inti Makmur Tbk (NASI), Reksa Dana Indeks Batavia SRI-KEHATI ETF, serta PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR). Pergerakan pasar yang fluktuatif ini menuntut kewaspadaan tinggi bagi para pelaku pasar dalam mengambil keputusan investasi.








Tinggalkan komentar