Alarm Merah Rupiah! Dolar AS Menggila, Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik Angka Rp17.848?

Alarm Merah Rupiah! Dolar AS Menggila, Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik Angka Rp17.848?

55 NEWS – Kurs rupiah kembali menunjukkan sinyal pelemahan signifikan pada pembukaan perdagangan Jumat (19/6/2026), terperosok ke level Rp17.848 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini mencerminkan depresiasi sebesar 54 poin atau setara 0,30% dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp17.794 per dolar AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mengenai stabilitas mata uang domestik di tengah gejolak ekonomi global.

COLLABMEDIANET

Menurut Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures, sentimen negatif yang muncul dari hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru menjadi pendorong utama di balik tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah. "Prospek kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed pasca-FOMC telah kembali menguatkan dolar AS, sehingga rupiah diperkirakan akan terus berada dalam tekanan," ujar Lukman dalam analisisnya yang diterima 55tv.co.id, Jumat (19/6/2026).

Alarm Merah Rupiah! Dolar AS Menggila, Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik Angka Rp17.848?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Lukman lebih lanjut menguraikan bahwa kebijakan agresif The Fed telah berhasil mendongkrak indeks dolar AS (DXY) ke level puncaknya dalam lebih dari setahun terakhir. Selain itu, ketidakpastian geopolitik global yang terus membayangi stabilitas pasokan komoditas energi dunia juga turut menyumbang kekuatan bagi greenback sebagai aset safe haven. "Kekhawatiran akan pemulihan pasokan minyak mentah global yang terhambat akibat konflik geopolitik menjadi faktor lain yang memperkuat posisi dolar AS," tambahnya.

Meskipun demikian, di tengah gempuran tekanan eksternal yang begitu kuat, rupiah masih memiliki beberapa "bantalan" sentimen positif dari ranah domestik. Lukman Leong menyoroti keputusan terbaru dari indeks global MSCI yang mempertahankan posisi Indonesia dalam kategori pasar negara berkembang (emerging market), bukan mendegradasinya. "Keputusan MSCI untuk tidak mengubah status pasar Indonesia sebagai emerging market ini cukup memberikan kelegaan dan berpotensi menjadi penopang bagi rupiah agar tidak terjerembab lebih dalam," pungkas Lukman kepada 55tv.co.id.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar