55 NEWS – Kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) kembali menancapkan taringnya dengan mengerek suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin, kini bertengger di level 5,75 persen. Respons cepat datang dari raksasa perbankan nasional, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), yang menegaskan bahwa kualitas portofolio kredit perseroan tetap berada dalam kondisi prima dan terkendali, bahkan di tengah dinamika pengetatan likuiditas ini.

Related Post
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, dengan lugas memaparkan bahwa indikator rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perseroan saat ini berada pada level yang sangat aman, yakni 0,97 persen. Angka ini jauh di bawah ambang batas kewajaran industri. "Mandiri rendah kan NPL-nya 0,97 persen, jadi sejauh ini kami tidak terlalu khawatir. Sampai hari ini, tren analisis vintage kualitasnya masih bagus," ungkap Riduan saat ditemui awak media di kompleks Istana Kepresidenan, sebagaimana dikutip 55tv.co.id pada Jumat (19/6/2026). Ia menambahkan, berdasarkan data internal terbaru, manajemen belum melihat adanya tanda-tanda pemburukan kolektibilitas dari para debitur, mengindikasikan fundamental yang kuat.

Menyikapi keputusan pengetatan moneter oleh bank sentral, Riduan memandang langkah tersebut sebagai bagian integral dari dinamika pasar makroekonomi yang wajar dan harus diantisipasi. Pihak manajemen Bank Mandiri menegaskan komitmennya untuk bersikap adaptif dan proaktif dalam menyelaraskan operasional bisnis dengan arah kebijakan moneter nasional. "Itu mekanisme yang harus kita ikuti," tegas Riduan, menunjukkan kesiapan perseroan dalam menghadapi berbagai skenario ekonomi.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar