55 NEWS – Di tengah kekhawatiran masyarakat terkait lonjakan harga beras dan isu kelangkaan di pasar modern, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memberikan klarifikasi penting. Bapanas menegaskan bahwa kenaikan harga beras saat ini bukan disebabkan oleh menipisnya stok beras nasional. Masyarakat diimbau untuk tidak panik karena ketersediaan beras secara nasional masih dalam kondisi yang aman.

Related Post
I Gusti Ketut Astawa, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilitas Pangan Bapanas, menjelaskan bahwa kenaikan harga beras lebih disebabkan oleh faktor lain, yaitu peningkatan harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani. Harga GKP yang sebelumnya berada di angka Rp6.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp6.500 per kilogram.

"Kenaikan harga beras ini adalah konsekuensi logis dari kenaikan harga GKP. Kenaikan GKP ini secara langsung berdampak pada biaya produksi penggilingan padi, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga beras di pasaran," ujar Astawa dalam diskusi publik bersama Ombudsman, Selasa (26/08/2025).
Pemerintah tidak tinggal diam dalam menghadapi situasi ini. Berbagai langkah strategis telah diambil untuk menstabilkan harga beras di pasaran. Salah satu upaya utama adalah percepatan penyaluran beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dikelola oleh Bulog. Program SPHP diharapkan dapat menekan laju kenaikan harga beras dan memastikan ketersediaan beras terjangkau bagi masyarakat.
"Pemerintah mengintervensi pasar melalui program SPHP dengan mengalokasikan 1,3 juta ton beras medium dari Juli hingga Desember. Kami terus berkoordinasi dengan Bulog untuk mempercepat dan memperkuat distribusi beras SPHP, karena masih banyak masyarakat di lapangan yang belum mendapatkan akses ke beras SPHP ini," jelas Astawa. Pemerintah terus berupaya memastikan ketersediaan dan keterjangkauan beras bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar