Pasar Properti Melambat Penjualan Rumah Anjlok

Pasar Properti Melambat Penjualan Rumah Anjlok

55tv.co.id – Sektor properti residensial di Indonesia tengah menghadapi tantangan serius pada paruh kedua tahun 2026. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI), tren pasar perumahan, khususnya pada segmen pasar primer, menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang cukup signifikan. Fenomena ini terlihat dari penurunan daya beli masyarakat serta melambatnya laju kenaikan harga hunian di berbagai wilayah.

COLLABMEDIANET

Data dari Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dirilis otoritas moneter tersebut mengungkapkan bahwa Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada kuartal III-2026 hanya tumbuh sebesar 0,56 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini menunjukkan penurunan performa jika dibandingkan dengan capaian pada kuartal II-2026 yang sempat menyentuh angka 0,69 persen. Melambatnya pertumbuhan harga ini menjadi sinyal bahwa dinamika pasar properti sedang mengalami fase koreksi.

Pasar Properti Melambat Penjualan Rumah Anjlok
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa kondisi ini tidak hanya terlihat dari sisi harga, tetapi juga dari volume transaksi. Menurutnya, hasil survei mengindikasikan adanya penurunan angka penjualan rumah di pasar primer untuk seluruh tipe hunian selama periode kuartal ketiga tahun ini. Hal ini menandakan bahwa minat masyarakat untuk membeli rumah baru sedang mengalami kontraksi.

"Dari sisi penjualan, hasil survei mengindikasikan penjualan properti residensial di pasar primer pada triwulan III 2026 menurun di seluruh tipe rumah," ungkap Denny dalam keterangan resminya pada Jumat (6/11/2026).

Jika ditinjau secara lebih mendalam melalui pendekatan spasial, dampak perlambatan ini tersebar di berbagai daerah. Dari total 18 kota yang menjadi objek survei, terdapat tujuh kota yang mencatatkan perlambatan dalam pertumbuhan indeks harga properti. Bahkan, terdapat satu kota yang secara mengejutkan mengalami penurunan indeks harga properti secara tahunan, yang mengindikasikan adanya tekanan pasar yang cukup kuat di wilayah tersebut.

Kondisi ini semakin dipertegas dengan perbandingan antar kuartal. Jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, pertumbuhan IHPR di pasar primer menunjukkan tren yang kian menurun. Pada kuartal III-2026, pertumbuhan IHPR secara triwulanan (quarter-to-quarter/qtq) hanya berada di angka 0,11 persen. Angka ini terpaut jauh dari pertumbuhan pada kuartal II-2026 yang berada di level 0,26 persen.

Para pengamat ekonomi menilai bahwa penurunan ini bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi makro, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, hingga kebijakan suku bunga yang memengaruhi minat terhadap kredit pemilikan rumah (KPR). Perlambatan di pasar primer ini tentu menjadi perhatian serius bagi para pengembang properti agar dapat menyusun strategi baru dalam menghadapi ketidakpastian pasar di sisa tahun 2026.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar