55 NEWS – Jakarta – Sebuah fenomena ekonomi yang langka dan patut dicermati tengah terjadi di sektor pangan nasional. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumumkan bahwa komoditas beras berhasil mencatatkan deflasi signifikan pada penghujung semester kedua tahun 2025, sebuah pencapaian yang mengejutkan mengingat periode tersebut lazimnya merupakan musim paceklik. Kondisi ini, seperti dilansir 55tv.co.id, diinterpretasikan sebagai sinyal kuat membaiknya fundamental sistem produksi dan distribusi pangan di Indonesia.

Related Post
Andi Amran Sulaiman, yang menjabat sebagai Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, menyoroti tren deflasi harga beras yang berlangsung secara beruntun selama dua hingga tiga bulan terakhir. Menurutnya, ini adalah anomali positif yang belum pernah terjadi dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir, khususnya saat memasuki bulan-bulan krusial paceklik seperti Oktober, November, dan Desember. "Alhamdulillah, kami melihat beras, yang merupakan penyumbang deflasi terbesar, menunjukkan deflasi. Ini fenomena langka di bulan paceklik, namun harga tetap stabil," ujar Amran dalam keterangan resminya, Minggu (14/12/2025).

Data konkret dari Badan Pusat Statistik (BPS) turut menguatkan klaim tersebut. Tercatat, harga beras di tingkat konsumen mengalami deflasi secara berturut-turut sejak September hingga November 2025, dengan angka masing-masing 0,13 persen, 0,27 persen, dan 0,59 persen. Tren positif ini berlanjut pada minggu pertama Desember 2025, di mana harga beras medium kembali terkoreksi 0,06 persen, sementara beras premium turun 0,15 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Angka-angka ini menegaskan keberhasilan upaya stabilisasi harga di tengah tantangan musiman.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar