55 NEWS – Indonesia kini memiliki terobosan revolusioner dalam dunia pertanian dan kesehatan, dengan hadirnya ekosistem beras biofortifikasi berskala industri. Inisiatif ini menjadi yang pertama di tanah air, dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, menstabilkan harga beras, dan secara signifikan meningkatkan gizi masyarakat.

Related Post
Fokus utama dari pengembangan beras biofortifikasi ini adalah sebagai bagian integral dari strategi nasional untuk menekan angka stunting dan meningkatkan kesehatan masyarakat secara komprehensif.

"Beras biofortifikasi adalah solusi strategis untuk mengatasi hidden hunger dalam skala besar. Kita tidak lagi hanya mengobati kekurangan gizi, tetapi mencegahnya langsung dari sumber pangan utama," tegas Guru Besar Ilmu Gizi dan Pangan IPB University, Evy Damayanthi, di Jakarta, Rabu (25/6/2025).
Ekosistem beras biofortifikasi ini pertama kali dikembangkan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Direktur Sistem Gizi Nasional di Badan Gizi Nasional (BGN), Nurjaeni, menekankan bahwa inisiatif ini sangat relevan dengan rencana jangka panjang pemerintah dalam meningkatkan status gizi masyarakat.
"Penguatan gizi dimulai dari lahan pertanian," ujarnya.
Beras biofortifikasi menawarkan pendekatan berbasis pangan yang efektif untuk mengurangi kekurangan zat gizi mikro. Hal ini sejalan dengan program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis dan target nasional penurunan stunting. Kolaborasi ini membuktikan bagaimana inovasi di sektor hulu pertanian dapat mendukung hilirisasi dan memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat.
Inti dari inisiatif ini adalah budidaya varietas padi biofortifikasi yang diperkaya dengan zat besi (Fe) dan zinc (Zn), dua mikronutrien esensial untuk tumbuh kembang anak dan kesehatan ibu. Pada tahap awal, ekosistem ini diuji coba di lahan seluas 5 hektar menggunakan varietas Nutrizinc, yang memiliki kandungan zat besi dan zinc 25-50% lebih tinggi dibandingkan padi biasa.
Meskipun Nutrizinc telah menunjukkan hasil gizi yang menjanjikan, ekosistem ini terus berinovasi dengan memperkenalkan varietas benih yang lebih unggul, seperti IPB 9G dan IPB 15S. Selain itu, eksplorasi varietas padi biofortifikasi lainnya dengan kandungan gizi tinggi terus dilakukan. Varietas-varietas ini menggabungkan kandungan mikronutrien yang tinggi dengan hasil panen yang lebih optimal, sehingga lebih cocok untuk diadopsi secara luas di lapangan.
"Di sinilah peran penting pemuliaan tanaman benar-benar terlihat. Kami ingin menghadirkan beras yang tak hanya lebih bergizi, tetapi juga memberdayakan petani lewat produktivitas yang lebih tinggi," kata Hajrial Aswidinnoor, pemulia di balik pengembangan varietas-varietas unggul ini. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Informasi lebih lanjut mengenai ekosistem beras biofortifikasi ini dapat diakses melalui 55tv.co.id.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar