55 NEWS – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, akhirnya mengungkap alasan di balik keputusan Indonesia untuk mengekspor listrik bersih berbasis energi baru terbarukan (EBT) ke Singapura. Kesepakatan strategis ini telah diresmikan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua negara.

Related Post
Bahlil menjelaskan bahwa ekspor listrik ke Singapura ini akan sepenuhnya mengandalkan sumber energi baru dan terbarukan. Listrik yang diekspor akan dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), serta sumber energi ramah lingkungan lainnya seperti angin dan air.

"Kita akan mengirimkan listrik ke Singapura, yang mana Pemerintah Singapura akan bersama-sama dengan Indonesia membangun kawasan industri bersama. Tujuannya adalah agar kita dapat maju bersama-sama, membangun industri hilirisasi, dan Singapura akan menerima pasokan EBT dari kita," ungkap Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (13/6/2025).
Perdagangan listrik EBT lintas batas ini diproyeksikan akan menarik investasi dengan nilai fantastis, mencapai USD30-USD50 miliar untuk pengembangan pembangkit panel surya. Selain itu, sektor manufaktur panel surya dan BESS (Battery Energy Storage System) juga berpotensi menarik investasi sebesar USD2,7 miliar.
Lebih lanjut, ekspor listrik EBT ke Singapura diperkirakan akan menghasilkan devisa senilai USD4-6 miliar per tahun, serta potensi penambahan penerimaan negara sebesar USD210-600 juta per tahun.
Dari sisi ketenagakerjaan, inisiatif ini diharapkan mampu menyerap sekitar 418 ribu tenaga kerja di berbagai bidang, termasuk manufaktur, konstruksi, operasi, dan pemeliharaan panel surya dan BESS. Hal ini akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi perekonomian Indonesia. Informasi ini dikutip dari 55tv.co.id.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar