55tv.co.id – Mata uang Garuda menunjukkan performa positif pada penutupan perdagangan Rabu (7/10/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berhasil mencatatkan penguatan tipis sebesar 12 poin atau setara dengan 0,07 persen. Pada akhir sesi perdagangan, rupiah bertengger di level Rp17.887 per dolar AS, memberikan sedikit napas lega bagi pasar domestik di tengah ketidakpastian global yang kian meningkat.

Related Post
Meskipun menunjukkan tren penguatan, pergerakan rupiah tetap dibayangi oleh situasi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah. Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa dinamika konflik di wilayah tersebut menjadi faktor eksternal utama yang memengaruhi sentimen pasar. Eskalasi ketegangan semakin nyata setelah kelompok Houthi yang didukung oleh Iran melancarkan serangkaian operasi militer yang cukup masif.

Serangan tersebut melibatkan penggunaan rudal balistik, rudal jelajah, hingga pesawat nirawak (drone) yang menyasar titik-titik vital seperti bandara, fasilitas minyak, serta instalasi militer di wilayah Arab Saudi. Kondisi ini menambah daftar panjang ketidakpastian keamanan di jalur perdagangan internasional.
Lebih lanjut, Ibrahim dalam risetnya menjelaskan bahwa ketegangan di Selat Hormuz juga menjadi perhatian serius. Iran dilaporkan meningkatkan intensitas aktivitas di selat tersebut selama sepekan terakhir. Ancaman penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz terus bergema, di mana Iran menegaskan akan menutup akses tersebut jika Amerika Serikat tidak memenuhi sejumlah tuntutan mereka. Peringatan keras juga telah dilayangkan kepada kapal-kapal asing agar menghindari rute yang dianggap didukung oleh Washington.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran pun tampak belum menemui titik temu. Pernyataan kontroversial dari Presiden AS Donald Trump baru-baru ini semakin memperkeruh suasana. Trump menyebutkan adanya kekosongan kepemimpinan di Iran akibat konflik yang telah berlangsung selama delapan bulan antara AS-Israel dan Iran. Ia mengklaim bahwa struktur kepemimpinan Iran, baik di tingkat utama maupun lapis kedua, telah lumpuh, sehingga menimbulkan ketidakjelasan mengenai siapa yang sebenarnya memegang kendali negara tersebut.
Menanggapi hal itu, pihak Kementerian Luar Negeri Iran membantah pernyataan tersebut. Mereka menegaskan bahwa Washington sebenarnya sangat memahami siapa lawan bicara mereka dan bagaimana mekanisme pengambilan keputusan di Iran bekerja. Di sisi lain, laporan intelijen media mengindikasikan bahwa Israel tengah mempersiapkan langkah serangan terhadap Iran, baik secara mandiri maupun melalui koordinasi dengan Amerika Serikat, yang berisiko memicu eskalasi perang yang lebih luas.
Dari sisi fundamental dalam negeri, kondisi ekonomi Indonesia terpantau masih cukup stabil. Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tetap berada pada level yang kuat, yakni sebesar 146,3 miliar dolar AS. Meskipun terdapat penurunan tipis sekitar USD200 juta dibandingkan posisi pada akhir Agustus 2026 yang sebesar 146,5 miliar dolar AS, angka ini dinilai masih sangat memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah guncangan ekonomi global.










Tinggalkan komentar