55 NEWS – Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Fahri Hamzah, mengungkapkan fakta mengejutkan terkait mahalnya harga rumah di perkotaan. Menurutnya, banyak pengembang properti yang kini lebih tertarik menjadi spekulan tanah daripada membangun dan menjual rumah.

Related Post
Fahri menjelaskan bahwa harga tanah di perkotaan telah melambung tinggi, bahkan menyumbang sekitar 50% dari harga jual rumah. Kondisi ini membuat para pengembang tergiur untuk menguasai lahan seluas-luasnya, dengan harapan mendapatkan keuntungan besar dari kenaikan harga tanah, meskipun belum ada bangunan di atasnya.

"Banyak dari mereka yang mengaku sebagai pengembang, sebenarnya mereka beralih bukan menjadi pengembang, tapi menjadi spekulan tanah," tegas Fahri dalam acara People-First Housing: A Road Map From Homes To Jobs To Prosperity In Indonesia di Jakarta, Senin (23/6/2025).
Praktik spekulasi tanah ini, lanjut Fahri, menjadi salah satu penyebab utama sulitnya masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah, untuk memiliki rumah di perkotaan. Pengembang lebih fokus pada keuntungan jangka pendek dari kenaikan harga tanah, daripada menyediakan hunian yang terjangkau bagi masyarakat.
Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius pemerintah. Fahri Hamzah menekankan perlunya regulasi yang lebih ketat untuk mengendalikan praktik spekulasi tanah dan mendorong pengembang untuk kembali fokus pada pembangunan perumahan yang terjangkau. Pemerintah juga berupaya mencari solusi alternatif, seperti pembangunan rumah susun atau pengembangan kawasan penyangga kota, untuk mengatasi masalah keterbatasan lahan dan tingginya harga rumah di perkotaan.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar