55tv.co.id – Gelombang pemutusan hubungan kerja PHK yang kian masif belakangan ini bukan sekadar fenomena hilir semata. Asosiasi Pengusaha Indonesia Apindo menegaskan bahwa akar masalahnya justru terletak pada carut marut sektor hulu industri yang tak kunjung tuntas. Dunia usaha mendesak pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk tidak hanya terpaku pada deretan angka korban efisiensi namun segera merumuskan langkah konkret demi menyelamatkan keberlangsungan industri nasional.

Related Post
Ketua Apindo Shinta Kamdani dengan tegas menyatakan bahwa isu ketenagakerjaan ini tidak bisa dipandang sebelah mata hanya dari statistik penutupan pabrik. Ia menekankan pentingnya fokus pada penyelesaian hambatan struktural atau debottlenecking di sektor riil. Menurut Shinta PHK selalu menjadi pilihan terakhir bagi pengusaha dan merupakan cerminan dari kegagalan mengatasi persoalan di hulu. Ini bukan sekadar angka melainkan panggilan untuk mencari solusi fundamental agar gelombang PHK bisa dicegah.

Data dari Kementerian Ketenagakerjaan mencatat angka yang mengkhawatirkan. Sebanyak 43.805 pekerja telah kehilangan pekerjaan mereka dari Januari hingga Juli 2026. Angka ini didominasi oleh sektor manufaktur padat karya di Pulau Jawa yang selama ini menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja.
Shinta Kamdani lebih lanjut menyoroti betapa rentannya sektor manufaktur padat karya terhadap berbagai tekanan. Akumulasi beban operasional yang berat ditambah keterbatasan rantai pasok menjadi pemicu utama. Khususnya industri seperti tekstil dan garmen yang sangat bergantung pada pasokan bahan baku serta biaya gas industri yang tinggi. Jika masalah-masalah mendasar ini tidak segera diurai kinerja industri nasional akan terus tertekan dan ancaman PHK akan terus membayangi.










Tinggalkan komentar